untuk Mifka Sabda Ali, presiden kelas pekerja serikat ciromed raya, yang telah mengilhami di suatu pagi.

A     : Pagi ialah rinai embun di tanah hati, dibasahinya kemarau hari, didinginkannya neraka diri, untukmu dan seribu kawan menyambut hidup agar tak sunyi. Dan barangkali pagi itu indah jika kau mengerti nikmatnya kopi tanpa sesaknya penumpang Damri. Selamat pagi kawan.

M     : Bagi kaum intelek-borjuis, pagi memang harus beraroma kopi dan filosofi hidup; tapi bagi kami kaum buruh, aroma keringat adalah takbiratul ihram dalam menyambut pagi, prosesi awal demi bertahan hidup.

A    : Benarkah demikian kawan? Kurasa filosofi pagi dengan secangkir kopi hanyalah petanda ada yang perlu disyukuri tentang hidup. Pun perbedaan yang kita huni dari sedepa keringat dan hasil setangkup. Jika kau menemukan syukur itu dalam setiap upaya bertahan atas peliknya kenyataan, maka kuharap ia tidak menjadi alasan untukmu membenci kopi yang jelas tidak melihat perbedaan.

M    : Masalahnya, perbedaan bukanlah takdir termurah dari tuhan. Ia bagi kami, adalah ciptaan dari para pemilik modal dan tuan-tuan yang tidak mengenal arti kemiskinan. Bagi mereka, apa yang perlu disyukuri ialah peningkatan nilai produksi. Sedang bagi kami, anugerah itu hanya bisa dihayati ketika tak lagi ada kelas dalam strata diri. Jauhkan khotbahmu tentang merayakan perbedaan, ia hanyalah candu untuk menutupi kepentingan.

A    : Aku bisa memaklumi pandanganmu kawan. Beberapa diri barangkali terlahir dalam berlimpahnya kepemilikan. Tapi bukan berarti tiada usaha yang dilakukan. Waktu sudah merubah semuanya. Bahkan pekerja bisa saja mengkudeta pemodal atas restu hak asasi manusia. Aku tidak sedang berkhotbah kawan. Aku hanya ingin mengajakmu sedikit saja menikmati kopi dan menunda keringat untuk hasil yang sudah ditentukan.

M    : Bahkan sekeras apapun usaha yang kami lakukan, seperti kau bilang; hasilnya sudah ditentukan. Kami tidak akan beranjak dari garis kekurangan. Bagaimana cara kami menikmati kopi ketika harga sekepal beras sudah terlampau tinggi? Bagaimana cara kami menunda keringat ketika catatan tunggakan dan hutang semakin menjerat?

A    : Aku sedang berucap tentang tuhan yang menulis dan menentukan hasil. Ia pasti, namun kita tidak pernah mengerti bagaimana nasib kita esok hari. Rasa syukur dan doalah yang akan membawamu pada hari di mana kau akan tahu bahwa tak ada yang abadi; dari modal, kekayaan, dan segala hal yang selama ini membuatmu banyak mencaci hari. Barangkali terlalu sulit untuk mengerti keadilan tuhan ketika rasa lapar menggerogoti keimanan. Tapi sabarlah kawan, hidup punya sejuta cara menuju Roma. Karena itu, tiada yang salah dengan seteguk kopi, pun ketika lidahmu kelu mengenang harga sembako dan hutang hari ini.

M    : Kesabaran adalah bantal tidur kami yang selama ini berjanji kan menghadirkan mimpi tentang indahnya hari. Tapi ada jurang yang dalam antara mimpi dan kenyataan. Dan itulah kemulukan. Itulah bahasa pengkhotbah yang berbagi saham dengan para penguasa dan pemilik anggaran. Maaf kawan, kesabaran ini sudah habis bersama cicilan kemarin. Adapun bunganya sudah menjadi rasa prustasi sebelum pada akhirnya kami secara perlahan dibunuh oleh keadaan. Tuhan yang kami yakini adalah tuhan yang mengerti; dalam kemiskinan, ibadah itu bisa saja dalam bentuk mencuri. Aku harus bekerja kawan, pun ketika aku mengerti alasan yang kau utarakan, aku masih tetap harus bekerja. Terimakasih.

A    : Aku mengerti. Pada akhirnya pagi ini indah ketika kau dan aku masih mengulas sempat tentang hidup dalam cara yang berbeda rupa dan tempat. Selamat bekerja kawan. Aku pun demikian, gelas kopi ini kan kuantarkan pada pemilik warung yang mungkin geram karena aku hanya menambah jumlah catatan. Inilah nikmatnya pengangguran, sebuah kelas yang bisa meludahi pemilik modal dan pekerja dengan hati ringan. Terimakasih kawan..

 

Manisi, 06 April 2011

Kenz

Advertisements