Kukira dunia ini sudah sakit, diandra.. sejak Amir Hamzah, sang penyair itu, berucap tentang sunyi yang lampus sunyi yang luka, sunyi yang kudus sunyi yang duka. Tapi dunia barangkali belumlah habis. Ia mungkin saja tak sesunyi yang kita kira. Dan jika saja kau tak berteman denganku, kau pun bisa merasakan riuh rentanya.

Dalam sunyi barangkali segalanya abadi. Kepadanya juga segalanya kembali. Seperti tanya embun tentang perginya basah di ujung pagi. Suaralah yang membuat kita fana, diandraku. Suaralah yang menjadikan lapangnya dunia sebatas kotak dan persegi kata. Namun sunyi bisa saja membuat lebam andai kita tak kunjung mengerti makna diam. Karena itu aku enggan berbincang, pun untuk hal yang semestinya harus kita perdebatkan. Wittgeinstein bilang, selalu ada yang tak terbahasakan di tengah aksara yang menjejali pikiran. Kupikir itulah alasan mengapa hidup tidak harus senantiasa diamini dengan seorang kawan di sisi.

Dalam sunyi barangkali cinta bersembunyi. Kepadanya juga frasa rindu satu-satu berpulang melawan arah waktu. Dan berhimpitan sebelum akhirnya dengan angkuh kita lupakan. Tidak ada yang sanggup kita lakukan, kecuali menatapnya dengan seribu bisu. Karena itu aku memilih bungkam untuk semua rasa yang sulit kuungkapkan. Sunyi itu kudus, diandraku, seperti hening cinta dalam dunia yang lampus.

Kukira dunia ini sudah sakit. Dan hanya sunyi yang menyembuhkannya.

Manisi, Maret 2011

R. Arken

Advertisements