Manusia, ibarat pohon ini, semakin ia naik ke ketinggian dan menuju cahaya, semakin mantap akarnya menembus bumi, ke bawah, ke kegelapan dan kedalaman menuju kejahatan.

— F. W. Nietzsche

 

Cerita ini bermula dari pecahan 100 perak, yang secara faktual merupakan incumbent nilai uang terendah di negeri ini. Tentu saja ia tidak cukup berharga untuk digunakan dalam akad pasar harian, apalagi untuk dibicarakan dalam transaksi bisnis trans-regional. Keberadaannya ibarat satu abjad yang bisa saja terbuang dan dilupakan dalam rangkaian kalimat panjang mahalnya hidup. Apalah arti seratus perak ketika harga sepotong pisang goreng saja sudah lima kali lipat dari nilainya? Bahkan seorang kawan yang sedang menghitung kencleng mesjid pernah berkata; masyaallah, ko ada yang nyumbang seratus perak?

Tapi ia memang yang mengawali cerita ini.

Sore itu, 9 jam sejak terbitnya mentari, hari masih selasa yang biasa dalam hitungan almanak bergambar sebuah Mercedes dan Pamela Anderson dengan kutang yang hampir terlepas. Sudah 3 hari kuingat tidak ada uang di sakuku. Dalam tiga hari itu juga, tidak pernah kakiku melangkah ke teras warung tegal apalagi rumah makan dengan harumnya bau rendang dan telor balado. Tapi, toh kenyataannya jatah makan setiap orang tidak bisa diukur dari seberapa banyak ia memiliki uang. Orang bisa saja punya rekening dengan saldo yang cukup untuk membeli seluruh angkot di negeri ini, tapi itu tidak ada kaitannya ketika jatah makan siangnya ia dapat dari acara sunatan anak teman sejawatnya. Ah, apapun, yang pasti persoalan bokek memang masih setia menghantui hampir sebagian besar pemuda di negeri ini.

Tirai jendela sudah lama berdebu, lemari tua di kamarku bertahun enggan bercakap dan hanya terpaku. Aku berbaring dengan tatap yang terlena pada gambar yang cuma ada di pelupuk mataku. Apalagi yang harus kulakukan, ketika semua hal yang bisa memperpanjang nafasku dari nasi sepiring dan air putih secangkir sudah singgah di perutku. Apalagi hidup tidak semata perihal uang di saku, meskipun ketika bokek, klausa itu tidak lantas membuat aku bahagia dan bernyanyi santai sambil menggunting kuku. Dan begitulah yang ada di benakku. Beribu hari yang terlewati, sudah mengajarkan kesabaran untuk tidak mencaci buruknya nasib ketika “si uang” enggan menemani. Ketiadaan uang memang seringkali dianggap sebagai awal kemiskinan. Dan kemiskinan berarti tubuh takdir anda sedang menderita gizi buruk. Semakin bermasalah ketika anda bokek, tagihan datang dari segala penjuru, pacar anda memaksa putus, terjadi pemadaman lampu, dan dus teman-teman tempat berbagi sedang berada di Timbuktu.

Lalu, itulah yang terjadi. Setelah sejenak ingatan akan tuntutan untuk membuat hidup lebih nyaman, aku beranjak. Kupikir aku harus melakukan sesuatu. Ada seorang adik yang harus kupenuhi bayaran sekolahnya, ada tagihan adira yang tak pernah berakhir menyita waktu dan tenaga, dan tentu saja bayaran paket internetan unlimited AHA i don’t like it. Maka, kunyalakan notebook, dan kurinci beberapa gagasan untuk mendapatkan uang dengan cara Z sampai A. Senyum memenuhi bibirku, aku dapatkan jawaban untuk masalah bokek itu. Oh, tentu saja tidak akan kutuliskan di sini, itu bikin malu. Yang intinya gagasan sederhana bagaimana memulai gerak mendapatkan uang seperti tertulis dalam buku biografi Arifin Panigoro. Hanya saja ia memerlukan sedikit modal awal agar bisa berjalan. Yah, sepertinya hanya uang yang bisa menghasilkan uang lagi.

Tak banyak bicara, kurogoh semua saku celana, tas, lemari baju, rak sepatu, sampai lipatan jendela. Yah, siapa tahu mungkin ada kertas bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II, syukur-syukur jika ternyata ada lembaran merah dengan angka 1 dan 0 berbiji lima. Namun, setelah sejam perburuan yang kulakukan, rupanya takdirku masih mengalami gizi buruk. Alih-alih lembaran kertas yang kudapatkan, aku hanya menemukan sepotong logam berukir dua burung; garuda dan kakak tua yang tersenyum seolah berucap: selamat! anda sudah memenangkan kuis orang tolol di dunia! !@#$%^&*(!!!

100 perak! itulah yang kudapatkan. Kutimang perlahan pecahan kecil itu, nalarku berpikir keras, apa yang bisa kulakukan dengan benda ini. Aku tidak ingin menyumpah, apalagi tertawa. Sebab aku yakin, tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Pertemuanku dengan benda ini setelah usaha keras, bukanlah pertemuan sederhana tanpa makna. Ini pasti ada artinya, aku bergumam. Hanya saja apa yang bisa dimaknai dari pecahan 100 perak ini? Kecuali ukiran gambar garuda yang menyiratkan bahwa rakyat negeri memang banyak dinaungi kemiskinan, tidak banyak yang bisa kuartikan.

Tapi, tunggu dulu, bukankah Paman Gober kekayaannya dimulai dari koin seperti milikku ini? Siapa tahu, inilah koin keberuntunganku! Siapa tahu pecahan inilah yang membawaku pada puncak survey strata ekonomi majalah Forbes dan Fortune. Semangatku kembali menyala setelah hampir redup oleh wajah kakaktua brengsek itu. Kuteguhkan keyakinanku dalam-dalam, pecahan inilah benih harapan. Dengan koin ini aku akan membuat sejarah dunia sebagai sejarahku! Dengan koin ini akan kusantuni semua orang melarat dari Bandung sampai Timbuktu! Dengan koin ini akan kuludahi semua orang kaya di dunia yang selama ini tidak pernah melihat keberadaanku, dari Bill Gates hingga Abu Rizal Bakrie dan mereka yang tidak mengerti arti bokek! Aku yakin itu! semua niat baik pasti menghasilkan sesuatu yang baik. Apa yang harus kulakukan setelah ini adalah visualisasi harapan dan tindakan seperti diujarkan Rhonda Byrne dalam The Secret. Koin ini telah menarikku, dan itu terjadi karena aku juga mengeluarkan vibrasi yang menariknya dalam lingkaranku. Inilah pertemuan kami, inilah takdirku dengan koin itu.

Aku tidak bisa meramalkan apa yang akan kudapatkan setelah memiliki koin ini. Namun, itu tidak akan kupikirkan terlalu dalam. Aku memilih hidup tanpa ukuran daripada hidup pasti tanpa kejutan. Kurapikan rambutku, kusingsingkan lengan bajuku. Perubahan harus dimulai dari saat ini. Mendadak . . .

“jreng.. jreng.. hasrat hati hanya sekedar bertanya..” alamaaak.. bagaimana bisa ada pengamen bernyanyi sumbang di depan pintuku? Bukankah ini sudah menjelang magrib dan harusnya semua orang berhenti bekerja? Apa dia tidak tahu, aku tidak memiliki apapun untuk kuberikan? Aku bokek bung! Pikiran panas bekerja cepat seiring seribu tanya anarkis dalam hatiku. Sial! Namun, saat ingin kubuka pintu dan mengeluarkan ucapan ketusku, koin 100 perak di genggamanku terjatuh. Astaga! ketauan deh aku masih punya koin untuk diberikan. Bah! pasti pengamen itu sudah berbunga-bunga mendengar suara jatuhnya koin ini. Siaaall..!!

Kupungut koin 100 perak dengan cepat. Tidak bisa! ini adalah koin keberuntunganku! bahkan Paman Gober rela memberikan seluruh gudang hartanya asal gerombolan siberat, dengan kaos belang itu tidak mengambil koin keberuntungannya. Namun, entah mengapa, saat ingin memungutnya, mataku tertuju pada ukiran kakaktua di keping 100 perak itu. Degh.. mengapa aku begitu bodoh dan serakah? Mengapa koin ini membuatku buta bahwa niat baik harusnya diiringi pikiran dan tindakan yang baik pula? Aku tersentak. Bahkan angan-angan berada di puncak saja bisa membuat diriku lupa, apalagi jika itu benar-benar terjadi. Astaga, jangan-jangan koin keberuntunganku ini sebenarnya adalah milik pengamen itu. Pertemuanku dengan kepingan 100 perak ini sebenarnya hanya tuntas maknanya jika kuberikan ia dengan suka rela.

Yah, Nietzsche benar, semakin orang berada di ketinggian penuh cahaya, semakin jejaknya merasuk di kedalaman dosa. Koin dengan pecahan 100 perak ini sudah memberiku pelajaran berharga. Apa yang melapangkan adalah memberikan yang paling berharga. Kubuka pintu, kuserahkan koin keberuntunganku pada pengamen itu. Aku tidak peduli, apakah itu bisa menyenangkan dirinya. Aku hanya ingin melepaskan apa yang tadi menjelma beban dalam pikiran. Meski itu tidak menuntaskan persoalan.

Matahari sudah tenggelam di ufuk senja yang kemerah-merahan. Akhirnya ada yang selesai dalam heningnya penyesalan. Bagiku, ini berarti jawaban atas pertanyaan apa yang berharga dari pecahan 100 yang tertera pada kepingan. Paling tidak, ada rasa syukur yang bisa kupanjatkan, atas hidup yang bagaimanapun kondisinya, senantiasa memberikan pelajaran. Entahlah..

Manisi, 17 Maret 2011

R. Arken.

Advertisements