Aku terlanjur mendapatimu tidak setegar semula, kawan.. Seperti burung habis kicau, di penghujan musim yang makin galau. Meski itu bisa saja kehendakmu. Pilihanmu sebagai diri yang mampu menutup telinga untuk bising dunia. Tapi aku tetaplah kawanmu. Yang tak ingin ceriamu berlalu. Dan itu kutanamkan berulang di satu tanah masa yang sudah. Bahwa bisa saja tak kuhiraukan melati hilang wangi, asal tidak hatimu yang sirna arti.

Aku terlanjur menemuimu tengah merajuk pada hari, pada tuhan, dan semesta yang kau anggap tak jua peduli. Tentu itu sebelum luruh keangkuhanku untuk bertanya muasal di baliknya. Toh, itu tak penting sebab bukankah kita pernah berdoa.. “semoga tak ada sesal untuk hidup yang tak kunjung kita yakini mengarah kemana.” Tapi itu terlalu rumit, kawan.. Seperti sudah kunyatakan padamu berulang, berjalanlah meski matahari tak pernah meluruskan bayang. Berangkatlah meski bulir hujan menggenangkan aksara darah pada jalan. Namun, untuk alasan yang tak kupahami, kamu tetap berdiam. Menekuni senja yang hilang jingga. Menekuri jengkal sunyi dalam ruang yang berduka.

Aku terlanjur menjumpaimu sedang memainkan dadu bertitik tiga. Menebak takdir dan berharap ada kenyataan kelima. Meski bagiku itu terlampau musykil, tapi kau beranggapan bahwa itu adalah niscaya. “Ini bukan untukku mengobati luka, ini bagiku mengukuhkan hidup tidaklah bercabang dua..”. Itu ucapmu. Seperti prosa amarantine yang berkala kita dendangkan sebelum lelap menyapa senyap. Lalu bermimpi tentang sungai di Barat yang sempat disinggahi Nuh. Berteduh di buritan sauh dari riuh dan terik yang membunuh. Namun, hidup bukanlah mimpi, kawan.. Ada tujuan yang harus diikrarkan sebelum kita terkulai dalam pusaran. Ada janji yang harus dipenuhi agar aku dan kau terus tergoda untuk kembali. Di sini, di tempat seluruh ingat dengan rapi kita catat. Dan menghayatinya sebelum waktu membunuhnya, cepat ataupun lambat.

Dan aku terlanjur menyuamu telah terlupa akan itu semua, kawan.. Tidak jua kau bersedia membuka celah untukku mengabarkan kisah dulu. Kau kini sudah setia memurungkan paras; menggariskan batas yang tak lagi bisa kumasuki dengan tawa yang keras. Aku sedih kawan.. Bukan ini yang kuinginkan meski perseteruan kita tlah berlangsung sejak kelahiran. Aku selalu ingin akrab dengan kata maaf, meski di hadapmu itu tak pernah mudah terucap. Seteru atau sahabatku, aku tak lagi mengerti beda antaranya; aku hanya berharap lembaran ini sempat kau baca..

Kenz,

Desember 2010

Advertisements