“Childhood is not from birth to a certain age and at a certain age, the child is grown, and puts away childish things. Childhood is the kingdom where nobody dies.” – Edna St. Vincent Millay.

***

Mungkin kutipan di atas tidak penting untuk segala maksud dalam tulisan ini. Tapi ia menjadi penanda awal bahwa ada yang perlu diingat pada suatu masa dalam satu hidup. Pun itu dalam memulai sebuah tulisan. Setiap momen, setiap peristiwa, selalu menjadi titik pijak yang menumpulkan segala tanpa kehadirannya. Heidegger menyebut itu “kemewaktuan”, dan Husserl menguraikannya sebagai intensionalitas. Tapi aku menyebutnya “kebeningan”. “bening”, kata ini selalu menjadi ukiran dalam frasa dan kalimat yang meneduhkan. Ia bagiku adalah satu kata yang merujukkan segala pada fakta di mana tak ada lekang keruh yang menutup pandang. Seperti halnya saat tak ada debu keraguan dalam kaca keyakinan. Saat tak ada sampah dusta dalam bicara. Itulah kebeningan.

Aku menyebut ia kebeningan karena hidup lebih banyak dilumpuhkan oleh kisruh, sedang aku berharap waktu dan kesadaranku utuh. Aku menyebut ia kebeningan, sebab aku entah kapan mulanya, sudah menemukan itu dalam tutur dan parasmu, padahal dulu tak sekalipun ia ada dalam lamunanku. Tapi di depanmu aku gugur dan sunyi, laiknya sembilan putik kembang yang terbang oleh angin di Januari. Dan tahukah kamu, itu membuatku deja vu. Pada masa, pada tanah, pada musim, di mana nalar belum bergetar oleh kalut dan sembilu. Itu membuatku seolah kembali bocah dengan jejak ringan dalam langkah, memanjat sebatang jambu di pekarang sungai yang kering hilang rinai.

Semua itu karena kehadiranmu.. Aku kembali mendapati waktuku yang sempat mangkir oleh duka. Melupakan larutnya usia, sebab nuansamu terlanjur membawaku pulang pada masa anak-anak dengan kerut manja. Dan kuharap kamu mengerti; oleh banyak hal semestinya aku bisa menganggap ini tak berarti. Tapi aku takut. Aku takut hilang nuansamu yang belum utuh kukenali. Aku bahkan tak mengerti bagaimana mesti menjujurkan perihal pada diri. Yang aku tangkap hanyalah bahwa dari nuansamu aku tak sanggup berlari. Aku terpesona sebelum kusadari ada yang bergemuruh dalam dada. Aku terdiam sebelum kutemukan ada yang terbungkam dalam paham. Oleh banyak perihal semestinya aku bisa mengenyahkan dirimu, dan berlalu acuh sambil sedikit mengejek ketidakberhargaanmu di depan egoku. Tapi aku tak sanggup. Selalu saja ada yang tergetar sebelum sempat kurumuskan apa arti menjadi tegar. Dan aku benci itu…

Aku tak mengerti bagaimana satu nuansa bisa memendarkan seribu warna. Seperti halnya dulu seorang penyair muda dengan derai-derai cemara, jika kau pernah mengejanya. Aku tak mengerti bagaimana sapamu bisa menyentuhku dalam bahasa yang begitu mudah mengilhami, sedang aku tlah berjanji tuk menjauh dari percakapan yang menyangkut perihal rasa hati. Semestinya aku meyakini Sartre bahwa kamu adalah neraka bagi diri, atau barangkali sabda Nietzsche tentang amorfati; bagaimana bertahan dengan luka hingga kuusaikan cedera ini.

Dan aku tak mengerti bagaimana aku ternyata tak jua menyesal mengenalmu. Meski aku tau, kamu bisa saja acuh dan berlalu. Atau barangkali tertawa dan sinis membuang adaku. Aku hanya berharap Vincent benar.. kebeningan masa anak-anak dapat memberiku abadinya waktu. Agar aku bisa memandang peristiwa dan hidupku dalam jarak yang tepat dan sedikit bijak. Lalu, jika pun ada risau yang tersisa, aku hanya harus meyakinkan diri bahwa nuansamu kan meluruhkannya…

______

R. Ark

Advertisements