Ini semua masih tentang kamu, kejoraku..

Aku ingin menyatakan diriku remuk, meski 2 tahun berlalu dalam peristiwa hidup yang menumpuk. Aku masih terbayang kamu yang datang 5 bulan sebelum ini dan berkata: Apakah aku masih seperti dahulu? Kamu seharusnya mengerti.. Sampai hari esok pun aku tetap mencintaimu. Walau harapanku kini telah menjadi abu. Kamu selalu ada dan kekal mencipta cinta di hatiku. Meski itu tidak mengharuskan aku menunggumu. Karena cinta, seperti yang terus kita lafalkan, hanya kan bermakna bila ia menjadikan kita hidup yang seharusnya.

Aku menyimpan segala tentangmu dalam satu taman yang terus kurawat dalam ingatku. Kusirami ia dengan segenap airmataku yang meluruh namun kutahan agar tak jatuh. Kubersihkan ia dari semua debu yang bisa menjadikannya layu. Kupupuk ia dengan semesta doa agar kau senantiasa bahagia. Lalu, bila aku jenuh dengan dunia, aku hanya harus memasukinya dan bercengkrama dengan semua tentang kita. Tentang kau yang merona saat kugenggam jarimu dan kuucapkan cinta. Tentang surat dan lukisan yang tak sempat kita beri figura. Tentang maaf yang terlambat dan kepergian yang tak bisa kutolak. Di taman itu, kembali aku tersenyum dan menyua semangat baru. Dan kusadari lagi hanya kamulah cantikku.

Aku mengerti bahwa ini semua bukan sekadar perihal hati. Aku mengerti bahwa kamu harus berlalu sebab itulah pengorbanan terbesar yang harus kau berikan untuk diriku. Aku tentu saja sedih.. bukan oleh kepergianmu, namun oleh ketidakmampuan diriku memberikan yang terbaik untuk hidupmu. Aku tidak membencimu.. Sebab cinta telah menghapuskan dalam diriku selain binar syahdu saat menatap parasmu. Cinta telah memalingkan diriku dari segala kecuali sapa manjamu saat mendekapku di tepi senja. Dan sungguh, tidak sedikitpun aku menyesali fananya kisah kita, karena ia justru mengajarkan aku bagaimana bersyukur atas segenap rupa dan rasa.

Lalu, jika di satu hari kelak kujumpai dirimu lagi, aku ingin menyatakan lagi satu rasa tak berhingga. Bahwa rindu ini masih milikmu. Pun cinta ini masih bertutur tentangmu. Meski kamu dan aku saat itu telah sama-sama renta. Bahkan telah letih akan segala. Sebab, bisa saja itulah pengharapan terakhirku sebelum aku tak lagi bersahabat dengan daya. Aku ingin kisah kita utuh di ujung nafas dan pelupuk yang luruh. Ah, ini semua masih tentang kamu, …

November 2009

_____

R. Ark.

Advertisements