Dan aku masih terjebak dalam gerak yang tak bisa kutolak.. Pagi yang berkabut. Pelupukku masih terjaga menahan kantuk yang dua hari ini tengah merajuk. Aku ingin sekali saja mampu menjemput apa yang barangkali masih menggelayut dalam imaji. Namun, selalu saja aku terjatuh sebelum sempat kuseka semua peluh. Lalu apa yang apa yang harus kulakukan sahabatku?

————-

Barangkali ingatanmu tidak tertuju padaku saat ini. Seperti halnya lembaran kosong di hadapku yang terus menolak untuk kutulisi. Berpuluh gagasan yang semula hinggap, entah mengapa lenyap di sela jariku yang mendadak gagap. Aku ingin mengadu perihal rasa penat akhir-akhir ini. Perihal separuh harapan yang dulu kita teriakkan dengan rasa pasti, dan perlahan hilang oleh ragu yang terus menghinggapi. Apa yang harus kulakukan sahabatku? Haruskah aku berhenti di sini? Haruskah aku menyerah dan melumpuhkan segenap semangatku dalam rasa diri yang kalah? Kupikir itu bukan yang kau harapkan, meski tindakanku dengan harapanmu tidak harus berkaitan.

Aku tidak ingin terjaga di pagi yang buta dengan rasa percuma. Aku tidak ingin menemui angkara hari dengan rasa iri. Karena itu hanya akan menyebabkan damai yang sering kita lantunkan menjadi elegi. Dan apa yang harus kulakukan sahabatku? Jalan di depan otakku masih dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat macet perasaan. Seperti letusan merapi dan tayangan “Silet” yang membuat kawan-kawanku sibuk berlari. Aku ingin kejelasan arti, tidak hanya sekadar kata “barangkali”.

Lalu ingatan pun sedikit demi sedikit menghilang, menyisakan diri yang merasa terbuang. Mungkin saja selain kesepian ini, tidak ada lagi yang abadi. Tapi bukankah tuhan yang kita simpan di hati telah bekerja selama enam hari, dan hanya meninggalkan minggu pagi untuk kita terpukau sunyi? Sebenarnya apa yang harus kulakukan sahabatku? jariku tersesat, nalarku berkarat, bahkan untuk menulis pun aku sirna hasrat.

Dan aku masih terbungkam dalam kelam yang hanya bisa kudiamkan. Pagi yang miris, seperti dingin yang ganjil di sela gerimis. Sedang segala benda dan orang di sekelilingku terus mengajakku bernyanyi. Dengan pekik minor yang tinggi, seakan itulah satu-satunya cara melupakan geram hati. Aku ingin sekali saja mampu menembus batas pengetahuan yang memisahkan cinta dan benci. Namun selalu saja aku terhenti sebelum pasti kutuntaskan kisah ini.

Apa yang harus kulakukan, sahabatku?

Manisi, 14 November 2010

_______

R. Ark.

Advertisements