Mungkin lebay, alay, cemen, atau apalah, tapi aku tetap tak bisa mengerti mengapa harus seperti ini. Aku hanya ingat bahwa pada beberapa hari terakhir, tiba-tiba rasa kehilangan itu muncul begitu dalam. Aii, apa yang kutakuti ternyata benar-benar datang menghantui, aku patah hati.. Cinta untuk sekali lagi tak kunjung bisa membuatku merasa berarti. Cinta memilihku untuk melengkapinya dengan keterpurukan diri.

Bahkan menangis pun aku tak bisa.. Di antara layar notebook 15 inchi, buku the apple way, lemari setengah kaki, dan hiruk pikuk televisi yang menyiarkan berita rekening gendut perwira polisi, aku tak mengerti mengapa cinta memilihku untuk patah hati.. Mungkin karmaku memang buruk bentuk dan rupa, mungkin diriku kurang upaya, mungkin dia tak pernah menganggapku ada, mungkin tuhan lebih suka melihatku terluka, mungkin.. aku memang tak mengerti, mengapa cinta lebih memilihku untuk patah hati..

Dan sakit itu membayang, seperti rintih lamat orang yang tertimpa pohon jambu di ujung malam jalan tak berlampu.. Sesaat di antara ribuan saat yang terus menjalar, rasa itu berhenti untuk kemudian semakin menjadi-jadi. Ironisnya, aku tak pernah punya kemampuan untuk membunuh diri.. Aku ingat sisifus, mencoba menertawakan prahara diri bahwa apa yang kualami tidaklah berarti apa-apa dibandingkan hukuman mendorong batu di keabadian masa.. Tapi, siapa yang mau membayangkan bahwa aku haruslah bahagia? Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa cinta memilihku untuk patah hati.

Aku hanya ingin ini berlalu, dan waktu kembali berpihak kepadaku. Tidak lagi seperti ini; aku yang luruh dalam detik-detik perasaan percuma yang hadir dan memenuhi setiap jengkal kata. Tiba-tiba wajahnya berjuntai di pelupuk yang perlahan-lahan membuka diri, ah, rasa sakit ini bukan mimpi.. Ini sudah menjelang pagi, dan aku tetap tak mengerti, mengapa cinta memilihku untuk patah hati.

Manisi, 1 Juli 2010

______
R. Ark.

Advertisements