Usiaku 20 kala itu.. saat angkot biru beringsut seperti malas menuju Cibiru. Tentu saja aku mengerti, sang pengemudi tidak ingin angkot ini berisi diriku saja. Oh, aku lupa, seorang kakek dengan bakul berisi sayuran, yang sudah lebih dulu duduk di pojok jendela. Maaf, tidak terbiasa menganggap angkatan tua sebagai saingan, jadi tidak kuhitung. Angkot, di usiaku 20, masih ramah. Tidak seperti hari ini; menyalip dan menelikung hingga pengendara motor (itu aku) harus terkencing-kencing menginjak rem, dengan segenap upaya menghentikan laju ban agar tidak mencium bumper belakangnya (angkot goblog!).

Usiaku 20 kala itu.. aku tidak pernah menikmati perjalanan dari Cicaheum menuju Cibiru. Apalagi jika itu harus terjebak dalam deru bising knalpot angkot dan bau Topi Miring mulut sopir yang terus berteriak: biru.. biru.. Tapi semua berubah tatkala tak sengaja tatapku berhenti tepat di wajahnya. Seorang gadis (mungkin) penjaga toko Dunkin Donat Ujungberung, yang entah kenapa menjadi candu dan memintaku untuk terus hilir mudik Cicaheum-Cibiru. Agar dia tahu, aku selalu menyiapkan mataku untuk menjenguk keluar jendela. Terutama tepat di depan tokonya. Aku ingat wajah itu, mata itu, dan segala sensasi yang mendera saat angkot yang kutumpangi melaju ke arahnya. Hei, kamu seharusnya berhenti dan menyapanya: begitu kata kawanku. Tidak bung, hatiku tidak mengijinkan demikian. Aku hanya ingin menatapnya dari balik kaca angkot sambil berharap ia menyadari ada mataku yang terjerat oleh pesonanya. Berharap ia menyadari bahwa ada hati yang ketar-ketir ketika angkot ini akan lewat di depan tokonya. Aku bahkan tidak ingin sengaja turun dari kendaraan, lalu memandangnya lama-lama tanpa harus menyapa. Tidak kawan, angkot yang melaju, tatapan yang kulayangkan dalam-dalam meski sekilas itu, emosiku yang meluap jika ada yang menghalangi pandanganku, dan perasaan nelangsa jika sosoknya tidak berdiri di sana, semuanya menyatu dan menjadi nuansa yang ingin terus kuulangi. lagi dan lagi.

Usiaku 20 kala itu.. dan 6 tahun berlalu, aku tidak ingat kapan terakhir kali angkot biru membawaku menuju dia. Aku hanya tau keadaan telah berubah. Jalanku tak lagi sebatas Cicaheum-Cibiru, angkot kini tidak seramah dulu. Pun wajahnya juga kuyakin tidak lagi bisa kutemui, terutama karena toko Dunkin Donat itu sudah menjadi kantor cabang sebuah bank. Jika ada hal yang masih mengganjal di hati, itu adalah kerinduan pada nuansa dirinya. Juga masa yang seolah berlalu sia-sia. Dan kau benar kawan, seharusnya aku dulu sempat berhenti dan menyapanya. Pura-pura membeli donat dengan uang tersisa, atau nekad menanyakan nama, meminta nomor kontaknya, sambil berkata akulah utusan tuhan yang ditakdirkan menjadi kekasihnya.

Usiaku 20 kala itu, kawan..

Manisi, 2010

______

R. Ark.

Advertisements