Bagaimana mengukur rindu?

Ini kali mendung masih menyapa. Aku masih terjebak dalam gores sebatang pena dan kertas tipis di sudut jendela. Ternyata bukan hal mudah mengabjadkan pikiran, apalagi jika itu berurusan dengan dirimu. Menulis tidak pernah sesederhana mengolah garis. Sementara rinduku bukan hanya bentuk, tapi juga warna, kata, dan setumpuk remuk redam ingatan yang sibuk bertukar-sangka.

Aku tidak sempat bertanya siapa dirimu, pun sekadar mengeja namamu dalam ingatku. Tapi untuk setiap catatan yang aku buat, dirimu sudah selalu hadir menyerupa tanda seru. Aku tak percaya bahwa rasa sakit adalah sisi lain dari rindu. Aku setuju bahwa apa yang ada tidak harus selalu kubaca sebagai luka. Hanya saja apa yang tak mampu kuuraikan bisa saja membunuhku. Dan itu adalah dirimu.

Barangkali untuk setiap kenangan selalu ada waktu untuk terlupakan. Tapi tidak kali ini. Tidak rasa ini. Di pelupukku sudah tumbuh pelangi sejak dirimu menjemput sunyi ini. Tapi itu pula yang sering membuatku mati iseng oleh riuh tatapku sendiri.

Aku tak kunjung mengerti mengapa kalimatku retak sebelum utuh rinduku tercatat. Sedang apa yang perlu kukutip, dari mendung, awan, tanah berbatu, dan senja yang kelabu, telah tersisipkan dalam catatanku. Luruhku diam, lirihku kusam, dan rinduku semakin muram..

Lalu bagaimana mengukur rindu?

Manisi, September 2010

_______

R. Ark

Advertisements