Bandung sudut kota, dengan gerimis yang panjang. Matahari seperti jenuh. Dan dingin enggan menjauh. Hari ini aku melihat seraut sosok yang begitu dekat dalam ingat. Mungkin itu kamu, ketika kita masih bisa bersama-sama bernyanyi untuk tanah yang lama mati. Itu membuatku rindu, saudaraku. Pada tuturmu, pada iramamu.

Aku tak pernah menuliskan cerita murung untuk kau baca di sela nanar sebelum kantuk datang meraja. Apalagi jika itu akhirnya membuat mimpimu semakin tak pasti. Aku hanya sempat mengirimkan ucap selamat malam untuk kehadiran yang kan lelap dalam temaram. Tapi rembulan memang tak selalu bersinar sejuk menemani mereka yang terpuruk. Seperti dirimu, dengan teriak dendam yang tertahan dalam bisu. Maafkan aku jika hanya bisa membawakanmu lembaran dengan prosa yang mengelak dari kesungguhan makna. Aku hanya ingin gundahmu terhabiskan oleh kebingungan yang aku ceritakan tanpa rasa bosan. Hingga akhirnya kita bisa dapati, bahwa di bawah mentari selalu ada luka yang tak terobati. Mungkin itu yang kita bilang sebagai cinta, atau barangkali sekadar enigma sunyi.

Musim ini semakin angkuh, saudaraku.. Banyak perihal yang tak cukup kita letakkan begitu saja di atas meja. Dan kita bisa berlalu seraya menggantungkan baju di pojok waktu. Dinding ini sudah terlalu sering mendengar keluh kita, pun itu tentangmu yang tak pernah jemu mengurut warna. Tapi mungkin merah selalu terlampau perkasa untuk bisa kau beri makna. Aku hampir letih, saudaraku. Aku letih oleh ocehan tolol yang berulangkali kita dapati dari lingkungan yang sempat kita benci. Sebab mereka hanya bisa memukau lewat topeng menyembunyikan seribu coreng. Aku letih, saudaraku. Aku letih oleh bisikan caci mereka yang tak pernah punya nyali untuk melukai. Padahal, seperti sering kau ucapkan, karena luka punggung ini dapat tegak berdiri..

Bandung sudut kota, dengan dian yang menyala di pojok jendela. Senja sudah datang, dan ayat-ayat malam mulai meradang. Hari ini aku merindukanmu saudaraku. Sesaat aku begitu ingin kau hadir di sini. Meski aku mengerti, ada kehidupan lain yang harus kau jalani. Ada doa-doa lain yang musti kau hayati. Dan itu tidak denganku. Tidak untukku..

Manisi, 12 April 2010

_____
R. Ark.

Advertisements