dear diandraku..

Pertama, tentu saja aku harus mengucapkan salam dari hatiku yang selama ini jarang menyapamu. Aku sibuk diandraku.. waktuku tiba-tiba habis berlalu dengan hal-hal yang aku bahkan tidak mengerti mengapa harus kulakukan. Rasanya ingin mengulang lagi hilangnya usia, andai saja aku tidak berjanji bahwa sesal tiada guna. Tapi memang demikian kenyataannya, diandraku.. Aku terjerat hasrat untuk menengok masa lalu. Itu akhirnya membuatku hanya bisa mengeluh sepanjang aksara yang kini tiba di hadapmu.

Seringkali aku terbangun dari lelap dengan perasaan yang aneh. Sekelumit masygul diri atas dunia yang sulit kuartikan. Namun, lagi-lagi aku hanya harus menandainya sebagai kembang tidur yang pasti kan jatuh dan layu. Meski aku tak pernah benar-benar paham gerangan maknanya untuk hidupku. Lagipula, ketika rutinitas mengajakku pergi, aku pun terlupa dan selalu begitu. Lupa, lupa… bagiku ia seperti gumpalan kisah yang terpadatkan dalam bulir air di sungai waktu. Mengalir bersama tumpukan sifat dan peristiwa hidup yang jemu. Lalu terberai di muara hari yang semakin tak jelas bentuk dan rupa.

Kedua, aku hanya memiliki dua hal yang paling membahagiakan saat ini; menikmati lelah di senja yang pasrah seraya mengalirkan nikotin dalam darah dan berkata “hidup itu indah”. Satu hal lagi, itu berarti menyapamu di sela waktu dan membayangkan parasmu yang indah memalingkan duniaku. Aku takkan bertahan jika keduanya hilang dari hidupku, dari waktuku. Mengertikah dirimu diandraku..? Aku tak kunjung setegar ucap ab aeterno yang kututurkan di hadapmu dahulu. Aku bahkan hanya bisa menundukkan kepala dalam ketidakmampuanku mengarungi kemurungan jika ia datang. Menatap tanah dan pijak dalam-dalam, atau meneriakkan sebaris nada James Blunt, bahwa kamu memang menawan andai saja itu bukan sebatas angan.

Lalu apa yang tersisa di sini, diandraku..? hampir tidak ada, kecuali separuh semangat buta bahwa hidupku janganlah percuma. Ada jawaban yang harus kucari atas pertanyaan yang mengisi hati dan pikiran kala kuterjaga dari mimpi. Ada kalimat yang harus kutuliskan untukmu, di antara meja, tumpukan kertas, layar monitor, dan kaca jendela yang setia menemaniku mengurai kata. Dan itu belum jua rampung. Mungkin menunggu kesempatan yang tercecer di tengah gemuruh kota dan beragam orang yang menghuninya. Tapi, bilakah saatnya diandraku.?

Barangkali, sebagai hal terakhir yang ingin kutuliskan di lembaran ini, hidup memang hanya menunggu kekalahan. Hingga kita akhirnya bisa tersenyum kala terbuka segala rahasia. Dan tentu saja sebelum itu, aku harus mengucapkan janji untuk kembali menyapamu. Meski saat itu bisa saja cedera hidupku belum terobati. Atau barangkali aku tlah menemukan jawaban atas persoalan yang menghantui. Dan itu berarti aku mampu menambah satu perihal yang melegakan hati. Setidaknya itu harapanku..

Manisi, 3 April 2010

______
R. Ark.

Advertisements