Pada awan yang terbuka ingin kuintip kemuning senja. Dingin perlahan merambat, meratap.. gemuruh lenyap dan getar yang senyap. Sedang aku masih terdiam, menanti kejujuran kata yang enggan hadir dalam tulisan. Kupikir hanya tinggal bayangmu dan aku, dan kumimpikan kita sama-sama termangu.

Darimana aku memulai semua ini perempuanku..? Haruskah aku bertanya tentang kabarmu, sedang selaksa doa tlah kulirihkan agar kau bahagia selalu. Meski telah kukatakan padamu berulang bahwa hidup tak pernah selurus sangka dan bayang, tapi memang itulah harapanku adanya. Jika ia tak bersanding dengan kenyataanmu di sana, anggap saja memang harus begitu.

Aku selalu menunggumu di satu stasi yang tak kunjung kau hampiri. Bukan salahmu tentu, sebab kereta yang membawamu tidak berlari ke arahku. Tapi aku menunggumu, meski itu membuat naluriku berlumut, berkarat, dan menjadikan aku tak lagi bisa mengenali batas kewajaran sebuah hubungan. Aku menunggumu walaupun itu membuat orang lain mencemoohku dan mengatakan aku hilang kewarasan. Sebab aku mengerti, hanya ini yang bisa kulakukan di tengah amuk zaman yang hanya memberikan separuh rasa kasihan.

Di stasi itu perempuanku, sebenarnya orang bisa saja pupus asa hingga tak mampu mengenali apa yang tersisa di dirinya. Tapi aku bertahan dalam keyakinan yang kupancangkan dalam-dalam; kamu akan datang.. Dengan kereta yang berjendela dua, untuk kita, menghirup sejuknya udara dan bernyanyi tentang kemenangan Sisifus atas para dewa. Di stasi itu perempuanku, aku bisa menemukan hidup tanpa harus berburuk sangka. Karena pikiranku tak lagi memberi ruang untuk hal selain dirimu dan tiga kata di waktu senja. Meski itu terkadang membuatku lupa bahwa ada yang harus tetap dikerjakan selain menunggumu, agar dapat kuselesaikan hidupku utuh dalam cerita.

Darimana aku memulai semua ini perempuanku? senja ini hampir habis, dan kemuning dingin tak lagi menggiris. Yang aku tahu, kita saling menantikan sapa meski itu tidak selalu sesederhana penanda cinta. Meski tlah kusampaikan padamu di sedikit hari, bahwa ketakutanku hanyalah aku kan jatuh hati. Padamu, atau mungkin pada sesuatu di dirimu, entahlah..

Pada senja yang kini tak bermega ingin kulukis garis dan aksara. Mengolah lanskap gaib tentang nuansamu yang tak kunjung sirna. Tapi aku masih terdiam. Hanya jariku yang tiba-tiba sudah menyelesaikan satu tulisan. Dan kupikir sekarang hanya tinggal kemuning ini dan diriku. Entah dirimu..

Desember 2009

Kenz

Advertisements