Lalu kemana aku harus pergi? sedang seluruh makna hidupku ada di sini. Aku ingin bersamamu, diandra.. menghitung deretan aksara dingin dan sunyi. Berdua memungut jejak embun di setiap pagi, sebelum hari menyengat, dan kita harus kembali pada dunia yang itu-itu lagi..

***

Watermark ini masih mengalir di telingaku. Seperti lirih doa. Di sayap malaikat terkait, dan terberai tak kunjung mampu menembus tujuh langit. Aku ingat kamu yang biasa di hadapku termangu. Bahkan untuk itu hening pun rela menunggu. Hingga akhirnya sedikit kalimat terucap lambat.. Berjanjilah, tuturmu. Janjikan padaku tentang kasih yang berlapis. Tak akan goyah laiknya bukit berbaris. Meski pada akhirnya pena tidak selalu lurus mengukir garis. Dengan senyum kuat aku setia mengangguk. Sebab aku tak ingin menghadirkan apa yang hanya tutur puitis di yakinmu. Kata-kata adalah batas nalar, sedang niatku seumur hidup terus bergetar.

Lalu kemana aku harus pergi? Setelah seluruh hidup kutanamkan di tanah hatimu. Berharap ia kan subur, meski jelas kamu takkan bisa menjaganya setiap waktu. Kemana aku harus pergi? Sedang langkahku senantiasa terjejak menuju ruangmu. Karenamu bagiku hanya ada satu hidup, dan aku tak pernah menyesali itu. Meski tanah ini bisa saja mati, dan benih pun hilang biji. Tapi itu pilihanku, niatku, yang tak sempat kujatuhkan dalam kata sebab keberangkatanmu terlalu dini.
***

Kali ini Cursum Perficio yang terdengar, diandraku.. Lembut nada yang menetirahkan diri di tepi sadar. Lalu perlahan menjelma namamu pada gelombang darah, nafas, dan gerak tubuh yang bertukar-kejar dalam waktu. Hingga akhirnya membentuk pahatan paras di kalbuku. Itu kamu. Lalu bagaimana aku bisa berpaling jika demikian kenyataannya, diandraku..? Kalimatku bisa saja ingkar makna, tapi kasihku tak kan pernah berganti rupa.

Lalu kemana aku harus pergi? Sedang sudut tak lagi utuh kukenali. Angin dan tenggara, salju dan utara, semuanya kini terlampau muram, lenyap batas tak berbekas terkikis diam. Kemana aku harus pergi? Sedang bayangmu terus saja merintangi. Olehmu hidupku bisa saja hilang arah, namun tidak lantas aku gelisah dan berkata sudah. Aku memilih sirna diri dan berharap jalinan ini abadi. Sebab laki-laki adalah orang yang membawa luka dulu untuk dibalut hari ini. Aku menyayangimu diandra, ada dan tiada, imaji ataupun nyata, bahkan lumpuh dan terluka. Itu takdirku yang terus kurawat dalam doa. Dan tak pernah kutitipkan pada siapa-siapa..

Maret 2010

R. Kenz

Advertisements