The world is not a silhouette. Aku ingin mengatakan itu sejak pertama kutemu cakapmu. Tapi aku tak kuasa, sebab nyatanya dunia lebih baik dengan dua warna. Meski itu berarti semuanya terlampau sederhana. Tapi aku ingin memandangmu seperti itu. Hitam dan putihmu, kalut dan tenangmu, aku dan dirimu, hanya itu yang ingin kumengerti. Aku tak ingin mendengar apa yang mungkin tak jelas aksara dan maknanya dari tuturmu. Aku tak ingin melihat apa yang mungkin debu dan mengotori cantik parasmu. Bahkan aku tak ingin menduga apa yang mungkin ragu dalam benakku dari dirimu.

Seperti ivory dan ebony dalam kosmologi irama, aku ingin nadamu indah tak berhenti tanpa harus kau bernyanyi. Seperti Faus dan Buddha dalam absurdnya ilahi, aku ingin kamu tertawa dan terus menganggapku ada. Ah, tapi memang dengan dua warna pun, kita tetap punya berjuta lensa. Menyebalkan.. karena apa yang hitam bisa jadi biru jika kau mengerti bahwa laut pun terkadang rendah diri. Apa yang semula putih mungkin saja jingga jika senja sudah hadir menemani. Namun itu ilusi, kejoraku. Sedang aku ingin wangimu sejati, walaupun itu berarti harus membuka segala yang terjerat pada riwayat. Dan itu dapat saja membuat luka jika kau tak yakin adaku kan membalutnya.

Aku ingin maknamu tak surut meski usia bertambah larut. Aku ingin indahmu tak lekang meski padang hilang ilalang. Karena dunia ini muram, kejoraku, seperti 5 menit percakapan kita di suatu malam. Aku tersipu, sedang kamu mungkin terpacu jemu. Maka, aku hanya ingin sisa waktuku kan terang oleh dianmu. Lalu, jika sempat kita bercakap lagi, aku ingin kala itu ditemani mentari. Sebab siang adalah bugarnya raga yang membuat kita semakin mudah berdusta. Siapa tahu, kita bisa saling mengucapkan cinta.

The world is not a silhouette. Aku ingin menyatakan itu, tapi aku terlanjur malas dengan banalnya realitas. Aku terlanjur tuli dengan riuhnya informasi. Ah, kejoraku.. Aku ingin bahasa kita sederhana dengan sedikit olesan puisi tua. Aku ingin nalar kita sederhana dengan sedikit belajar lupa. Aku ingin harapan kita sederhana dengan menjauhi rasa percuma. Dan aku ingin cinta kita sederhana dengan kau dan aku dalam altarnya.

Kenz, 2009

Advertisements