Siapa yang mengakrabi sunyi pasti mengenal nuansa nyeri. Aku meyakini itu diandra, sejenak sebelum kau memilih pergi. Sedang aku tak sempat mengingat parasmu setelah kau letih bertatap diam dengan labilku. Tapi di sedikit saat itu pula aku mengerti, untuk segala perihal, kefanaan ternyata hal yang pasti. Dan aku sedih diandra…

Lalu senja perlahan menghilang, membawa bayang pada sudut terdalam diri yang terbuang. Aku ingin sekali saja menitikkan airmata saat ini, diandra.. pun itu untuk hal-hal yang tak kau pahami. Aku sedih, karena kenyataan selalu saja jujur walaupun itu melukai. Apa yang berlalu terus saja membisu sedang aku terlalu rindu pada deja vu. Meski aku mengerti diandra, bahwa setiap diri sepertinya pernah mengutip luka untuk kalimat hidup yang tak kunjung sempurna. Tapi aku sedih diandra.. dan itu membuat semuanya enggan sederhana untuk kuamini begitu saja.

Aku ingin beranjak denganmu diandra, andai saja kau bukan sekadar retaknya ilusiku. Berlari jauh denganmu, andai saja adamu lebih dari lusuhnya imajiku. Tapi kenyataan ini tak pernah berdusta, diandraku.. Aku masih di ruang itu dengan isak satu-satu. Aku tetap diri yang itu dengan segenap cidera hidupku. Dan aku sedih diandra..

Desember, 2009

Advertisements