Hari ini hujan baru selesai jatuh, diandra.. Aku masih termangu, menatap hilir dingin yang mengitari sekujur tubuh. Dari telapak setumit hingga tepian jendela yang melirihkan doa untuk mentari yang mungkin sedang sakit. Dan tahukah kamu diandra, bagiku rintik itu seperti rinai waktu. Aku tak pernah bisa menebak kemana sudut ia berlalu. Lalu aku dalam tiba-tiba yang disengaja sudah berada di detik itu, dan sekali lagi aku tersadar bahwa kefanaan ini ternyata memurungkanku. Aku tentu tak pernah berniat membawa hujan ini dan menyatakan bahwa itu yang kan meneduhkanmu. Dari terik, dari kemarau, dari gersang, dan apa saja yang mungkin merisaukanmu. Aku tak mampu diandraku.. Aku hanya bisa mengirim salam pada rinai rintik yang mengusai dalam detik. Untukmu, juga semua mata yang menatap dunia hari ini dengan warna haru.

Tapi tentu kau bisa saja tak peduli pada semua itu, diandra.. Seperti sikapmu selama ini terhadap hujan, lembayung, pelangi, bahkan pada setiap hal yang begitu lumrah di hidupmu. Lagipula, senja ini tetaplah senja, meski hujan hari ini berlabuh ataupun urung jatuh. Hanya saja aku selalu dikejar nuansa de javu saat hujan ini menyapaku, diandra.. Aku seperti dilemparkan pada satu tempat di masa lalu yang memaksaku untuk jauh merapat dengan ingat. Namun, sekali lagi aku tak kunjung mampu memanggil ia kembali di waktuku. Dan hujan pun terus jatuh, merintik satu-satu, menjelma lautan kenang yang gelap dalam bayang. Hanya dingin yang lamat menutup semua ini, diandraku.. Lalu perlahan aku pun kembali pada hidup yang tak jua selaras deras hujan ini.

Pernahkah kau mendengar bahasa hujan..? Aku mungkin tlah gila berucap seperti itu, namun itulah yang kudengar hari ini diandraku.. Hujan itu bercakap sendiri, suaranya merdu, riuh hening yang pelan menghentak kealpaan sadarku. Ia berkata tentang janjinya pada mendung, pada sudut bumi yang mengerti bagaimana menangisi kerontang hari, juga padaku dan seorang perempuan yang hanya hadir lewat de javu. Dan tahukah kamu, diandraku.. hujan ini kan datang jika saja kau sudi mengangkat jemarimu dan melukis aksara rindu. Ia kan datang, ia kan datang.. diandraku..

November 2009

Advertisements