Sederhana yang ingin kurampungkan di sini, malam ini, diandra.. Cerita yang tak jua kutemukan ujungnya selain semu kabar yang murungnya tak pernah pudar. Selebihnya, ia hanya caraku mengisi insomnia yang tak kunjung reda. Sebelum akhirnya pelupukku menyerah, dan menyenandungkan requiem pada hening serta secarik kertas dengan kata yang pecah.

Konon Tuhan menciptakan pena sebelum arasy dan rembulan, diandra.. Karena itu aku menulis. Menikahi arti sepi yang terus melingkari lewat satu-satu aksara yang perlahan menjelma paraghraf dengan 3 butir koma. Seperti malam ini, di ujung timur pertiga pagi. Saat yang terdengar hanya melodi Enya dan sepotong puisi yang kuanggap ayat suci. Tapi semua itu, diandraku, jelas bukan tentang kamu. Tapi ihwal kecemasanku, keletihanku, harapanku, dalam nuansa hidup yang semakin banal, bising, brengsek, dan berliku. Bukan kekasih hati yang aku cari, diandra.. Sebab masing-masing kita dewasa dalam kesendirian. Cinta hanya memberi sedikit ilham terang saat muram gulita meradang. Selebihnya ia hanya kata yang masam dan sedikit menjemukan. Seperti yang dulu sempat kita bicarakan, diandraku..

(Sebaris senyap tiba, aku berhenti sejenak, diandra..)

Aku akan menggores ini tinta lagi diandraku, karena aku tak lahir dengan bakat mengecat kuku. Aku hanya dianugerahi kemampuan mengeja nama ketika semua selesai dirumuskan. itu pun hanya namamu, diandra.. Tujuh benih aksara yang berulang dan berkelindan dalam nalar hingga mencipta persimpangan tanda yang tak bisa kuartikan. Tapi itu cukup untukku merasa bahwa dunia ini sejatinya indah. Meski kita hanya punya sedikit waktu untuk belajar memilah, diandra..

Ucapmu: Tak perlu kita jadi penyair untuk mendapati hidup yang getir. Itu sia-sia.. Aku setuju diandra, Karenanya aku tidak meniatkan pena bersahabat dengan sajak dan prosa. Aku hanya harus menuliskan nama, seperti yang diajarkan pada Adam di surga pertama. Agar aku bisa lupa pada pohon sebatang yang tumbuh di pekarang. Tapi itu pula yang membuatku sunyi, sebab Hawa ternyata sepertimu diandra.. Diciptakan untuk melembutkan bahasaku, menjinakkan liarnya akalku, dan bila sempat, menggodaku untuk berdusta pada nuraniku. Ironisnya, aku menyebut itu stasi cinta, diandra..

(Hmm.. Jemariku mulai tak kuasa meneruskan semua ini diandra..)

Tiba-tiba aku merasa cerita ini tak pernah sederhana. Mungkin itu yang membuatku tak bisa menemukan ujungnya. Padahal insomnia bertahun tlah memberiku seribu malam untuk menjauhi keangkuhan renung. Ah, diandraku.. Sepertinya yang perlu kita lakukan hanyalah membuat pena itu terus berdiri. Menulis, dan membuat lembaran ini usai sebelum malam berhenti. Meski kita tak pernah utuh mengerti.

November 2009

Advertisements