Perempuan..
Aku ingin menyapa kalian dengan sedikit rasa dendam. Atas sebuah cerita purba tentang Adam dan Hawa. Bahwa kalian tercipta sebenarnya hanya dari pengapnya kesunyian dan seulas rasa iba. Adapun bila hari ini kalian lebih memiliki makna, maka anggaplah ia sekadar gerimis di waktu senja. Cukup bersahaja meski akhirnya harus redup dan berganti gulita.

Perempuan..
Aku ingin menyalami kalian dengan sedikit rasa kecewa. Bahwa dahulu sempat aku merindukan kalian bak udara dalam rongga dada. Mengalir sejuk dan mungkin memilhamkan apa yang kukira semula adalah cinta. Tapi aku kecewa, sebab kehadiran kalian ternyata terlampau fana. Pun kalian masih juga menyisakan segumpal kalut dan luka yang lupa kalian balut.

Perempuan..
Aku ingin membaca kalian sebagai deretan koma dalam paraghraf peristiwa. Menghiasi namun tak kunjung membuat kalimatku sempurna. Aku selalu kehilangan aksara dari peliknya nubuat rasa yang kalian bawa. Dan itu membuatku sekali lagi hanya harus memandang raut kalian dalam lembaran yang entah harus kuanggap sebagai apa.

Perempuan..
Aku ingin menatap kalian dengan sekilas kerling curiga. Bahwa mungkin saja kalian hanya hadir untuk menandaskan rumitnya menjadi manusia. Bahwa kalian berbeda dalam suratan raga, dan dengan angkuh menolak apa yang dimitoskan tentang ‘tulang iga’. Aku curiga bahwa dengan itu semua, kalian lantas mendapatkan hak untuk berlari setelah kalian suguhkan seribu janji. AKu curiga bahwa hati yang kalian miliki ternyata hanya nalar tanpa puisi.

Perempuan..
Dan Aku ingin menjujurkan apa yang semula justa dari jiwa: aku ingin menemani kalian seperti angin yang mengakrabi dingin. Aku ingin bersama kalian seperti awan yang melahirkan hujan. Lalu aku ingin menyayangi (satu dari) kalian seperti kasih biru pada laut yang menghanyutkan haru.. ah, hanya itu..

Bandung, 2009

Advertisements