Untuk Kamu: Kejoraku

Siapa yang memulai sapa kukira hanya persoalan dalam kata. Aku mengenalmu, lalu sedikit sempat merindukanmu, dan sekarang kehilanganmu. Hanya itu yang aku tahu. Tapi tetap saja ia kembali menjadi persoalan semu dalam jelajah waktu.

Tidak semua perihal tentu, adalah hal yang biasa. Hidup bertahun rasanya cukup untuk mengajarkan bahwa rasa berawal dari peristiwa, ingatan bermula dari kejadian, dan apa yang pernah terbayangkan tidak selalu jujur dalam kenyataan. Kuharap ini menjadikan kejujuranku tidak keluar dari kebiasaan. Dan jika detik ini lembaranku menjumpaimu dengan paraghraf yang haru, itu lebih dikarenakan aku takut kembali kehilangan kamu. Ah, hanya itu..

Aku terlampau enggan untuk berkata bahwa aku membutuhkanmu. Sebab, nyatanya dunia kecilku, sudah cukup untuk membuatku berdiri dan menutup pintu. Terhadap pesta, kerumunan, keriuhan, kesepian, kejatuhan, atau apapun yang itu menggerahkanku. Tapi sekali lagi, aku masih tetap takut kehilanganmu. Meski sebenarnya aku hanya ingin hadir seperti selimut dingin di dekapmu. Aku tidak ingin menjadi kekasihmu, pujaan hatimu, pujangga kalbumu, atau apapun yang itu malah menjadikan rasaku tidak lagi utuh padamu. Aku ingin senantiasa menjadi kidung yang mengalirkan airmata ketika kau terharu. Aku ingin selalu menjelma irama yang menggerakkan tawa ketika kau bahagia. Aku ingin terjalin denganmu dalam ikatan seluas semesta, dan aku yakin itu bukanlah cinta.

Adakah dirimu mengerti inginku? Sejauh aku mengakrabi dunia, harapanku mungkin terlihat mengada-ada. Sebab, siapakah diriku bagimu yang tampak akrab dengan perasaan percuma? Siapakah aku selain seorang anak muda yang berangkat dari kata dan melupakan sinisnya peristiwa? Kukatakan padamu, kejoraku, aku tidak percaya dengan puisi jiwa terhidupi. Tapi aku juga tidak yakin dengan semangat, cita-cita, karya, harta, dan sedikit cinta, hidup dengan sendirinya kan bermakna.

Kitalah yang memberi makna itu kejoraku. Aku, kamu, dan setiap orang yang pernah menatap dengan rasa haru. Aku hadir dalam celah, kau datang memendam resah, aku tiba membawa seribu diam, kau ada dengan sejuta gumam, semua itu sekedar penanda. Bahwa aku ingin berlari denganmu andai saja kita tidak begitu fana. Aku ingin menyentuh jarimu, dengan lekat senyum menatapmu, tanpa getar mendekapmu, dan membawamu ke arah di mana salju membuat kita membeku. Tapi tentu aku sadar itu cuma imajiku, dan bumi takkan pernah mengijinkan itu.

Lalu apalagi yang membuat semua ini berarti? Tidak ada, kecuali pilihan terdalam yang terus kujaga bahwa kamu adalah kejoraku. Meski pada akhirnya kau hanya mampu menyaksikan kata-kata ini pecah di mega. Tapi kuharap kau tau, langit malam juga terang oleh purnama. Dan pecahan itu adalah cahayanya. adalah aku, Kejoraku…

Bandung, 2009

Advertisements