telah aku sampaikan:
aku datang dari yang hening, bernyanyi tentang keruh dan bening, hidupku sunyi syahdu seiring, riwayatku singkat nasib berpaling, hariku runyam berbalut uring, cintaku layu hati nan kering..

telah aku sampaikan:
aku datang dari yang lirih, bernyanyi tentang puing dan serpih, hidupku absurd tak memilih, riwayatku kabur rambut memutih, hariku lusuh berpalang risih, cintaku patah hati nan perih..

telah aku sampaikan:
aku datang dari yang luka, bernyanyi tentang sajak airmata, hidupku redup cahaya senja, riwayatku dendam di ujung renta, hariku lumpuh seribu asa, cintaku hilang janji nan fana.

Perempuan..
Pada riuh utopia dan kemewaktuan cinta, aku menyua diriku telah terbaring mengharap runtuhnya persada bising. Aku lalu membaca Sartre, tentang neraka di dirimu, tentang faktisitas yang membiru. Sebab sekali waktu ia pernah berbicara tentang sakit . . . tentang seribu terjal yang menjadi belukar ketakutan dalam diri. Bahwa itu adalah palung keterasingan yang kan menyapa setiap angan. Bahwa ia adalah muasal segala puji dan cacian. Saat suara hati didengarkan, ia pun merayapi kesadaran. Begitu pun aku . .

Ini kali aku tak lagi mampu menahan deras ungkapan dari hati. Aku ingin berbicara sekadar penanda keterjagaanku dari mimpi. Tentang ruang dan waktu, tentang pekik dan gerutu, tentang luka dan sembilu, tentang cinta nan pilu . . .

Sebentar jauh telah kutunggu saat-saat itu, sebab aku ingin bercerita tentang seharusnya, tentang perihal yang mungkin bisa melegakan sedikit balutan luka. Bahwa untuk dunia dan hidup yang terus dipayungi justa, aku ingin kamu mengerti bahwa aku terus ada. Aku berdiri di setiap keping ingat yang merajai, aku bertahan di setiap keacuhan yang kau senandungkan untuk diri.

Seperti embun yang hanya mengenal pagi, begitulah cinta pun kan hanya mengetuk hati. Bila telah kau saksikan aku yang terus tersenyum di sini, di patahnya kerinduan yang menghuni setiap sudut diri, itu karena aku percaya bahwa memang demikian yang harus aku jalani. Setianya embun pagi, teguhnya cinta hati, sederhananya rumusan yang aku tulusi.

Perempuan..
Seharusnya kamu tahu, setelah kudengar semua kejujuran yang kau utarakan, tentang tiadanya kerinduan dan rasa di dirimu untukku, aku hanya bisa mengeluh bisu. Diam dan beku. Tapi itu bukan tanpa sebab yang perlu kamu tahu, aku cemas . . aku cemas tak mampu lagi merangkai kata setelah semua kejatuhan apa yang kuyakini. Aku cemas aksaraku mengeriput laiknya lusut kejatuhan Ikarus yang menyuarakan kalut, dan aku cemas sebagaimana Heidegger menolak bahasa pikiran dan ungkapan surut; karena berbicara dan berpikir adalah sejenis bahasa manusia yang menimbang dari setengah sudut, bahasa aku untuk menghilangkan kamu, dan itu adalah kepongahan terlalu. Heidegger bilang; itu objektifikasi apa yang tidak sekadar benda. Kamu ada di pikiranku sebatas cintaku berbalas dan diterima. Kamu hadir di benakku sejauh nalarku meyakini padamu ada rasa yang sama. Karena itu aku menolak, kamu hadir bukan karena cintaku, tidak juga tergantung nalar dan bahasaku. Kamu menjelma di sana sebaliknya menjadi ‘perigi sebab’ untukku memulai segalanya. Dari itu terkadang aku takut melukai hadirmu dengan ungkapan dan tulisanku.

Tapi sudahlah, itu mungkin terlampau rumit di tanggapmu. Toh, nyatanya kecemasanku justru kembali melahirkan tulisan ini. Dan ia persis keadaan diri dahulu. Entahlah, tiba-tiba aku justru merindukan masa-masa lalu, saat dirimu belum mengenalku, sedang aku telah masyuk membaca ayat-ayat salju di matamu. Gelapnya rahasiamu, angkuhnya pesonamu, anggunnya parasmu, semuanya kuhirup bak udara yang mengilhami gerak darah dan jantungku. Kamu yang begitu saja berlalu, sedang aku begitu sibuk menata gempa rasa yang menelikung hatiku. Ah, aku merindukan itu.

Perempuan..
Pada ganjilnya gulita malam berulangkali aku menapaki jejak airmata. Aku menangis bukan atas beratnya menanggung cinta yang kini tak tertuju, tapi karena angan yang koyak setiap kali kuhimpun raut dirimu. Meski aku mengerti bahwa penolakanmu bukan akhir segalanya. Meski aku tahu bahwa setiap fajar kan menghadirkan kembali indah dunia. Meski aku memahami bahwa aku hanya bisa menyelundupkan kecemasan pada jerat keangkuhan akan cinta yang kuyakini tak berbatas. Karena keputusanmu bagiku mungkin ruakan cahaya dalam hamparan ketidakjelasan menjadi manusia, menjelma ada.

Perempuan..
Membaca Greimas, aku tersadar; diriku hanyalah sebuah actan yang sunyi. Peranku, adaku, hidupku adalah satu huruf di hamparan panjang diary dunia ini. Cintaku, hatiku, keluhku ibarat butiran debu yang hanya menunggu mati. Ia mungkin tak pernah menjadi kata, frasa, kalimat, apalagi menjelma cerita yang kemudian akan dikenang olehmu apalagi mereka yang hadir sesudahku. Hidupku bukanlah sebuah hikayat yang dapat diingat dan didongengkan dengan rasa bangga menjelang lelap. Bukan indah lukisan laiknya Rembrandt yang terus suci di pintu zaman yang berkarat. Hadirku bukan narasi yang akan dituturkan dalam catatan dan ode sejarah. Aku tak lebih seseorang yang begitu lumrah yang bahkan kamu tanpa adaku takkan merasa resah. Aku merasa tak mendapatkan peran apa-apa dalam dramaturgi dunia, selain terseok sendiri untuk kemudian terjatuh dan hilang dalam sunyi.

Tapi itulah yang kumengerti, itu pula yang kusadari, lalu kulakoni tanpa harus bertanya kenapa ia terjadi. Bilapun ada perihal yang membuatku terlepas dari kelurusan ini, ia hanyalah permainan imaji dan benakku saat membaca hidup dan menghayati hadirmu dalam diri. Selebihnya, anggap saja aku sedang bermimpi.

Hanya tentu tidak sesederhana itu, oleh banyak hal aku bisa menyimpang dan terlena, tapi [seharusnya kamu tahu] cintaku selalu mengembalikannya. Oleh diam dan acuhmu aku mungkin marah dan terluka, namun sekali lagi cintaku meredakannya.

Perempuan..
Aku tak tahu hingga kapan kan terus begitu, sebab aku merasa lembaran ini seolah tak lagi bertuan, aksaraku, suratku, seperti kehilangan alamat tujuan. Dirimu tak lagi di sana setelah kalimat pahit yang kau ucapkan. Dan aku kelimbungan atas cintaku yang mengharap kehadiran. Siapakah kamu, siapakah aku, selain untaian doa berharap ada ruang dan waktu kita kan bersatu.

Adakah dirimu tetap bisa kukenali dalam keutuhan, dengan diam dan jarak yang begitu memisahkan? Aku tak pernah mampu memastikan perihal seperti itu. Yang aku tahu, lembaran ini janganlah terserak percuma, dibaca lalu sia-sia, hanya dikarenakan hatimu tak ada cinta. Yang aku tahu, aku hampir kehilangan daya menuliskan segalanya, meski bilapun bisa aku tak dapat memaksa dirimu untuk sudi menerimanya. Yang aku tahu, ini bisa jadi lembaran terakhir yang kan menutup cerita, lalu kita hanya harus melangkah seperti hidup yang biasa. Entah bila dirimu mau membuka diri untukku dan memulai satu cerita. Dengan kamu, aku, dan utuhnya cinta sebagai lakonnya.

Yang aku tahu, telah aku sampaikan semua. . .

Rinai Cibiru, 16 April 2009
17.37 WIB

Kenz Rimura

Advertisements