lovehurts1

Rasanya begitu asing ketika mengharuskan diri untuk menulis di blog ini lagi. Tapi memang ada banyak perihal yang membuat diri kembali bergulat di sini. 3 bulan tentu waktu yang bisa saja singkat, meski dapat juga lama, dalam hitungan nol inspirasi untuk menulis. Hanya, demikianlah.. rasa-rasanya tak ada yang perlu disesali, atau dianggap begitu berarti dari sekadar meliburkan diri. Dan apa yang bisa kembali terangkai dari aksara, itupun juga tiada perlu diterangkan ihwal mulanya.

Saya sepertinya sedang membenci seseorang..!! Saya benci karena harus terikat satu rasa yang saya pikir terus ditolaknya [meski sebenarnya saya tidak pernah mengungkapkan itu.. -_- ]. Ah, apapun, hujan hari ini masih nyinyir, Bandung tetaplah kota yang ganjil, dan saya masih bisa berselimut menahan gigil. Lalu, pada dia yang kubenci, bacalah..!!

Perempuan..
Pada musim, jarak, dan ceceran makna aku ingin menutup segalanya. Berhari sudah aku tenggelam dalam kubangan resah yang tak pernah kuinginkan tergenang. Masih malam meradang, berkali pula aku di ruang itu hanyalah lelaki bimbang menatap bayang, seorang diri, dan terbuang. Lalu, di tiap sepertiga hari mengunci pagi, aku letih mengatup jerit hati, namun tak jua sanggup berlari. Dan aku benci perihal seperti ini.

Perempuan..
Semestinya bukan laiknya sekarang yang terjadi. Aku yang bergulat dengan gelisah, dan kamu yang terus mengulurkan kisah. Hingga apa yang mungkin kutemui di sisa tuturmu hanya hal yang entah. Seharusnya tidak sebagaimana saat ini yang kutemui. Degup rasaku seolah kecemasan tak terjenguk, debar hatiku ibarat ketakutan tak tertengok. Hingga gumpalan ini bertukar bentuk pudarnya rasa, ragu menjelma.

Perempuan..
Aku mengerti bila riwayatku terlampau dini kualurkan di hidupmu. Aku mengerti bila rasaku terlalu cepat singgah di hadapmu. Meskipun dengan angkuh yang tak bernyawa aku berulang kali menyangkal setelah mengakuinya. Hingga pada akhirnya aku pasrahkan itu. Aku menumbuhkan rasa yang tak pernah bisa terucapkan dengan nyata. Tapi mengertikah kamu, bahwa perihal ini bagiku tidaklah biasa? Mengertikah kamu bahwa ini membuatku terpaku antara deru malu dan rasa yang mengharu-biru? Mengertikah kamu..?

Perempuan..
Sedang di tikungan nalar yang berontak hadirmu sanggup kutolak. Meski sebelum lelap namamu menjadi sabda yang terus hinggap. Seperti geram yang mengeram pada dendam. Laiknya barisan aksara pada kata. Kamu adalah penghuni inginku sewaktu, namun kuasaku justru memudar di sewaktu itu. Gerakku, gejolakku, geloraku, tertambat pada alasan yang tak kunjung kutemui dari runyamnya hadirmu. Kamu telah menjadi hujan di gersangnya langkahku. Aku akui itu, tapi aku letih. Dan letih ini telah berparas-lumut oleh ragu dan diammu yang menjadi kabut. Hingga pun pada lembaran ini lara terpaut, bahwa niatku tlah surut. Aku memilih terlupakan daripada harus menjemput kekecewaan.

Perempuan..
Pada musim, jarak, dan ceceran makna aku ingin mengatup segalanya. Anggaplah semua telah usai, dan tak perlu ada rutuk apalagi sesal yang terurai. Apa yang kudapati dan tak kau temui biarlah gugur dalam sunyinya sendiri. Seperti gigil yang tak sempat terselimuti. Atau kematian yang tak tertangisi. Dan aku, dalam fana yang kuhayati dapat kembali membisiki; aku pergi…

Bandung, 23 Maret 2009

Advertisements