Saudaraku..
Surat ini seakan beranjak dari benak yang tiba-tiba tak berjejak. Bahwa ada yang silap dari ucap, ada yang runtuh dari teguh. Dan itu aku baca dari sebuah keberadaan yang kini telah kau sembunyikan. Aku tak tahu di mana lokus semboyan ab aeterno yang dulu kau ikrarkan di sini; “Lebih baik mati terlupakan, daripada diingat karena pernah menyerah”. Aku juga tak mengerti bagaimana enigma nurani yang dulu kau bacakan bisa mati. Yang aku pahami hanyalah ada yang mesti berubah dalam cara, pada makna, dan di langkah kita mencari alasan untuk menuntaskan sejuta dendam pada yang silam.

Saudaraku..
Surat ini bermula dari jiwa yang kehilangan daya. Bahwa setelah percakapan kita usaikan, segelas malam kita habiskan, tiba-tiba fajar yang kita harapkan tak kunjung datang. Ia seolah menyiratkan ada yang salah dalam kita meracuni hari, mencaci hidup dan menolak arti. Sementara kita terlanjur berangkat, menitipkan sisa amarah pada sunyi. Kau mungkin lelah, sementara aku semakin tak bernyali. Itu menyakitkan tentu, tapi sekali lagi aku pahami; ada yang salah dalam eudamonia yang kita daki, pada mata kita memandang amorfati diri.

Saudaraku..
Surat ini memberangkatkan kecemasanku tentang raibnya altar masokis generasi “Balangah” yang kita bangun. Ketakutanku tentang pudarnya arti yang selama ini menjadikan kita ada. Dan tahukah kamu, keadaan ini bak pecahan batu Sisiphus yang membuatnya tak lagi bermakna di depan dewa-dewa. Aku kecewa..!! karena kita harus mati bahkan sebelum sempat para dewa mendengar genderang perang yang kita tabuhkan. Aku kecewa sebab kita harus bercerai sebelum sempat para dewa merinding nyeri akan ritus yang kita buat nisbi. Aku kecewa.. meski dan sekali lagi aku paham; ada yang salah dalam kita meluluhlantakkan sistem di ujung madangkara yang entah kenapa menjadi surga.

Saudaraku..
Embun masih singgah, meski pagi tak lagi gelisah. Aurora timur masih hadir, meski bumi semakin nyinyir. Aku tak tahu apa yang tersisa untuk dilakukan dari serpihan jejak yang kamu tinggalkan. AKu tak mengerti kapan bendera kembali kita kibarkan. Lalu, sekali lagi, yang aku pahami kepalan itu jangan kau turunkan. Luka itu jangan kau balut, biarkan darahnya menetes, mengalir menuju amuk hidup yang semakin remuk. Namun, bila mungkin kau telah memilih untuk lirih, hapuslah semuanya dari ingat, agar kau tak lagi tergoda untuk kembali.

Saudaraku..
Surat ini adalah persembahan kecilku agar dunia masih memiliki warna. Apapun yang kau temui di ujung sana, riwayat kita sudah tamat. Dan hanya harus kita resapi, dingin musim gugur ini adalah hymne faktisitas kita yang sudah pulas. Mungkin bermimpi… atau barangkali ejakulasi.

Bandung, 08’08

Advertisements