Diam, jarak, dan musim yang berlari
Tlah kutautkan padanya sisi hati
yang tak pernah letih
Hanya mengingatmu..

***

Perempuan..
Pada akhirnya ada yang mesti selesai dalam kisah. Setelah kita tak lagi mampu menatap bagaimana yang semestinya. Kau yang menyerah dan aku yang tak bisa mencegah. Tapi, apapun nyinyir di tubir mimpi yang didapati, aku sempat bahagia. Dan kuharap itu bisa kau ingat sebagai penanda untukmu satu cinta dari hati.

Perempuan..
Jalanku memang terjal. Perangaiku pun cukup berliku. Sungguh, aku sadari itu. Tapi, aku bukan tanpa upaya untuk merubah diri. Dalam banyak hal aku salah, itu pun kuakui selalu. Namun, aku bukan tanpa alasan menjujurkan sikap yang telah kau temui dari diri. Egoku terlalu kental, itu juga tak kuhindari. Hanya, aku bukan tanpa sesal bila teringat setelahnya.

Perempuan..
Ada beragam perihal yang mungkin telah melukai dirimu. Ada bermacam peristiwa yang kau alami denganku dan itu menyakitimu. Hanya, kuharap kau mau sebentar saja memahami bahwa itu tak lebih dikarenakan kelimbunganku memastikan artiku di hadapmu. Aku menyayangimu, dan itu berulangkali kuteguhkan pada setiap gerakku. Aku ingin kamu meskipun aku tak pernah tahu bagaimana sebenarnya kau memaknaiku. Kalaupun ada yang melenceng dari niatan itu, mengertilah bahwa itu kan kuperbaiki.

Perempuan..
Saat kau bilang bahwa kau letih dan tak ingin lagi melirihkan semua ini, Aku tergetar. Nanar menahan isak sesal dan harapan yang hilang tegar. Aku tak mampu dan tiba-tiba kehilangan daya untuk berbuat yang mungkin benar. Duniaku kembali hampa, menjadi gulita tanpa terang yang sudah kau beri. Bila saja masih ada kesempatan untukku meluruskan segala, aku akan bersimpuh di hadapmu sembari berkata; tunggulah sebentar.. jangan kau pergi hingga usai semua labil diri. Tunggulah sebentar.. jangan kau beranjak hingga runtuh semua keras hati.. Tapi itu tak kudapatkan, dan aku hanya bisa pasrah mengiyakan.

Perempuan..
Kemanapun akhirnya putusanmu berlabuh, aku tak akan lagi mengganggu. Cukup sudah aku membuatmu lara, dan kuharap kau mengerti di saat yang tersisa ini; maafmu sekali lagi adalah satu hal yang sungguh kuharap dapat menyimpannya dalam diri. Sedang kau tentu berhak untuk menyumpah segala yang telah terjadi. Tapi aku, di sini, pada getir yang takkan bisa kuobati, hanya ingin mengatakan: terimakasih tlah sudi berbagi cinta dan hari. Kisah ini singkat, bahkan belum juga kupastikan jawaban darimu, ia sudah harus merapat. Ah, andai saja tidak seperti ini…

Perempuan..
Bila suatu hari nanti kau mau membuka pintu hati, kabarilah aku. Sebab, saat ini aku sudah memastikan, kaulah cintaku, permadani jiwaku, penyejuk resah duniaku. Aku tak ingin kau pergi, tapi itu tinggal mimpi. Namun, kumohon, kabarilah aku. Dan aku kan datang dengan segala perihal yang tak lagi memberi lara. Aku hanya ingin kau bahagia.

Terimakasih cinta..

 

Griya Kiranti, 09/2008

Advertisements