Di antara utopia dan simplifikasi hidup, aku menemukan diriku terdampar merajuk pada keluh. Aku lalu membaca Heidegger, tentang Dasein yang membeku, tentang Faktisitas yang membiru. Sebab sekali waktu ia pernah berbicara tentang kecemasan . . Tentang seribu terjal yang menjadi belukar ketakutan dalam diri. Bahwa itu adalah dorongan halus nan alamiah yang menyapa setiap hidup. bahwa ia adalah muasal segala luruh. Saat suara hati didengarkan, ia pun merayapi kesadaran. Begitu pun aku .

***

Ini kali tak kuasa lagi menahan deras ungkapan dari hati. Aku ingin berbicara sekadar petanda keterjagaanku dari mimpi. Tentang ruang dan waktu, tentang pekik dan gerutu, tentang luka dan sembilu, tentang ayat-ayat salju . .

Sedikit lama kutunggu detak detik seperti ini, sebab kamu tahu aku hampir lupa bagaimana proses mengolah kata, menjelajahi makna. Tapi itu bukan tanpa sebab, aku cemas . . aku cemas laiknya riput lusut lukisan “Mazhab Athena” Raphael, aku cemas seperti senyum magis “Mona Lisa” Da Vinci, dan aku cemas sebagaimana Heidegger menolak bahasa pikiran dan ungkapan; karena berbicara dan berpikir adalah sejenis bahasa manusia yang melalaikan, bahasa aku untuk menghilangkan kamu, dan itu adalah kepongahan. Heidegger bilang; itu objektifikasi. Kamu ada sebatas pikiranku ada. Kamu hadir sejauh nalarku menerka. Karena itu aku menolak, kamu hadir bukan karena aku, tidak juga tergantung nalar dan bahasaku. Kamu menjelma di sana sebaliknya menjadi ‘perigi sebab’ untukku memulai segalanya. Dari itu aku takut melukai hadirmu dengan ungkapan dan tulisanku.

Tapi sudahlah, itu terlampau rumit. Sebab, nyatanya kecemasanku justru melahirkan tulisan ini. Kembali seperti dahulu. Persis waktu-waktu aku menghela nafas dan membaca ayat-ayat salju di matamu. Rahasiamu, pesonamu, yang membekukan setiap jejak inginku. Sekarang pun sensasi itu seringkali terasa, mengilhami geloraku untuk senantiasa menunggu keteduhanmu menelikung takdirku. Aku selalu ingin bersamamu, sebab dengan itu aku sempurna. Segala lintasan rasa memuncak ketika di sampingmu. Dan seperti berulangkali kuteguhkan; kamu adalah pemangku terbaik tiap stasi kecamuk yang menyergap heningku.

Ayat-ayat salju ini bahkan lebih sekadar itu, aku kelepasan logika untuk menguraikan maknanya. Aku hanya bisa menyebut bahwa indahnya mengatasi taman ideal Platonik, menyerupai kanvas dengan sketsa Rembrandt di atasnya (aku berharap kamu mengerti bahwa hanya Rembrandt yang bisa melukis Rembrandt). Aku hanya bisa membiarkannya memadatkan makna ke dalam diri yang mengalaminya. Membutakan indera dan memadamkan nalarku dalam menerkanya. Dan itu adalah kamu.

Ayat-ayat salju di tiap kalinya adalah intuisi cinta pertama. Yang menyempitkan jarak pada setiap perpisahan. Yang mengharumkan emosi pada setiap kerinduan. Yang membeningkan kisruh saat aku terdiam. Lalu, memadamkan kecemasanku, mengajakku pulang pada muasal diri yang lain; cinta..

Griya Kiranty
22.30 WIB 08/2008

Advertisements