Hari ini saya awali dengan perasaan yang seperti hambar. Padahal biasanya pagi selalu berhasil menyimpan semua perasaan dan pikiran yang kalut oleh masalah. Atau jangan-jangan saya salah tidur, salah makan, salah mikir, apapun.. Tapi ya sudahlah, bukan itu juga yang ingin saya tuliskan di sini.

Kali ini saya ingin berbicara tentang semestinya. Tentang apa yang harus namun terbuang dan terlupakan. Tentang yang tak tertunaikan, lalu dalam diri menjelma keputusasaan. #halah Atau (serius) sederhananya begini, dalam beberapa bulan terakhir ini ada beberapa rencana hidup yang saya jalankan. Tidak terlalu banyak dan berjalan juga, cuma memang rencana itu sudah saya niatkan sejak lama. Saya tidak akan berbicara apa rencana dan apa yang sudah saya lakukan untuk mendukung keberhasilan rencana tersebut. Itu rahasia. Yang pasti, itu tidak akan berpengaruh ataupun menggangu hidup anda, orang lain.. Nah, dari sini justru masalah itu bermula.

Menjalani hidup apa adanya, menerima baik dan buruknya, susah dan senangnya, memang sepertinya mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Kadang saya bertanya, kalaulah (seperti saya) berniat untuk melakukan A, karena saya melihat ada peluang di titik A dan memang sepertinya A ini menghampiri diri sebagai kesempatan yang tidak boleh kulepaskan, lalu seluruh pikiran, semangat, dan tindakan saya fokuskan pada A, maka seharusnya saya akan mendapatkan A itu. Saya yakin teman-teman dan seluruh orang pintar setuju akan hal itu, lepas dari persyaratan yang diajukan. Sebab dulu rasa-rasanya ajaran “The Secret” udah menyebutkan bahwa jika saya atau anda sudah mentotalkan diri pada sesuatu, maka semesta juga akan membuka setiap peluang yang mendukung sesuatu tersebut. Nah, justru yang terjadi pada hari-hari ini entah kenapa adalah yang sebaliknya. Kerjaan yang menghilang, harapan yang menguap, kesempatan yang terbuang, atau bahkan usaha yang percuma. Rasa-rasanya saya ingin menyebut bahwa ajaran-ajaran yang saya yakini tentang keberhasilan diri seperti itu cuma ibarat mimpi. Hadir sesaat dan membuai diri, lalu sebelum sempat dinikmati ia sudah pergi.

Niat, usaha, plus doa, begitu umumnya kata orang tua biar kita berhasil dalam hidup. Atau Nah, itu memang terbukti pada banyak orang. Cuma memang tidak semuanya. Jika sudah begini, pasti ndak bakal jauh, ia berurusan dengan dan kembali pada tuhan lagi. Tapi persoalannya adalah ada begitu banyak orang miskin di Indonesia, ada begitu banyak penderitaan, kelaparan, keputusasaan, kejahatan, yang itu semua membuat doa dan keyakinan diri saya selalu hadir dalam nada ritmis. Antara keyakinan bahwa Tuhan bakal mengabulkan permintaan, tapi juga perasaan bahwa saya terlampau naif bila berkeyakinan seperti itu. Sebab pada kenyataannya yang terjadi memang selalu berkelit dari harapan dan apa yang sudah dibayangkan.

Barangkali satu hal yang bisa saya percaya hanyalah bahwa hidup tak selurus jalan dengan apa bayangan. Dunia dan drama kemungkinan yang terjadi di dalamnya, tidak selalu sebagaimana gambaran para filsuf dan orang-orang suci. Keberhasilan adalah musim semi yang berada di antara fakta dan mimpi, sedang kegagalan itu pasti. Sementara kedamaian diri dan kasih-Nya adalah musim gugur yang kadang terlampau bersyarat dan begitu sunyi. Entahlah..

Advertisements