. . . . . .

Perempuan . .
hanya senja perlahan
gugur di pelupuk yang runyam . .

akhirnya . .
langkah ini tiba pada sebuah sketsa. Dalam kecamuk, dalam peluk. Ada yang terkunci saat ingin membuka segala. Meski cuma lewat kata. Satu hal yang kuyakin; adalah jengahmu pasti hadir dengan lembaran ini. Hanya, bacalah . . moga laramu terkenang dan semakin cukup alasan untukmu membuang. Simaklah . . lalu sinismu terngiang dan kan ada rutuk yang melenggang. Atau paling tidak pandanglah . . dan jauhkan ia pelan, kelak tak ada perihal yang membayang. Hingga entah kapan kan terhiba maafmu buatku yang tak lagi dikurung naifnya keangkuhan.

Aku tergetar, sebelum sempat kumengerti ada yang gugur dalam bahasa. Aku tersuruk hingga kupahami ada yang hilang dalam diri. Lalu setelah hari-hari yang lusuh, aku tak lagi kuasa melipat bayang. Di stasi itu, terkadang aku ingin menyapamu . . sebentar saja . . meski tak lagi berbagi puisi atau geram hati. Atau mencuri kerling . . dan debar rasa mengiris setiap inci hari. Dan ia begitu saja terhela, sebab aku tak sanggup lagi hidup dengan justa. Ah, andai saja kita sama-sama mengetahui muasal kerumitan ini.

Mungkin hal itu saat ini begitu sederhana di tanggapmu. Aku pun harus mengakui itu. Tapi, selalu ada yang tak selesai di rasaku. Ada yang belum bisa sempat kualurkan dengan jernih di hadapmu. Meski, dengan ikhlas kusadari semuanya kan hanya berujung di pongahku. Aku mengenalmu dengan paras yang berdebu. Namun adakah teringat bahwa kau sempat mengusapnya? Dan membiarkan diri menekuni semua, membalut gelisahku atau sekadar menyentuh jerihku. Sampai pada masa ‘aleitheia’ itu, aku kembali tergagap. Nanar mendongak sesal. Dan kuteguhkan, kamu harus bahagia. Meski dengan itu aku sempat membuatmu lara. Tapi percayalah . . dirimu padaku. Pada setiap detik kenang yang menggerusi masa-masaku. Pada sendu bayang yang menderaskan airmataku.

Akhirnya . .
Maafmu adalah satu-satunya ruang kuberharap dapat membawaku pulang. Sedang kau berhak untuk mencela, sesederhana kasih yang mungkin tlah runtuh. Lalu sekejap kemudian kau kan beranjak. Dan aku, dalam doa, lirih menyatakan; “ada hari di mana dirimu diriku mengerti, kita tak pernah sempurna . .”

Viku,
01. 09 WIB
Juli ‘08

Advertisements