Timur Nalar, Juli ‘08
Untuk: dirimu yang kukenal dahulu..

Matinya Aleitheia…

Semenanjung hidup.. seribu paraghraf telah kuselesaikan. Sejuta renung telah kurampungkan. Hanya berharap ringkih itu hilang. Segala yang memuncakkan egoku pada kelabilan kan terkikis. Lalu, keraguan pun tak lagi membayang. Namun, seakan tak ada yang beranjak. Waktuku, ruangku tak pernah setia. Aku tetap disini. Mereka sudah terlampau enggan menampik hadirku. Aku kehilangan ikrar ab aeterno yang dulu kubisikkan di telingamu. Meskipun kau tak pernah mau tahu. Entah denganmu..?

Aku menunggu ketegaran yang terjungkal oleh rautmu. Begitu sedikit yang sempat kita rapalkan pada dunia. Begitu jauh prinsip yang kita amini dengan kenyataan yang dijalani. Berulangkali demikian. Selalu ada yang terkelupas dalam kemasan kita memanipulasi bahasa peristiwa. Entah siapa yang berdusta. Toh’ kuyakinkan itu hanya karena kita tak punya lidah untuk mengejanya dengan benar. Tanpa sesal, tanpa terlupa.

Dan kau pun tertawa..

Aku tak ingin menilaimu. Apalagi mencoba datangkan arti di hidupmu. Aku hanya mau merusak gelisahmu atau mungkin tenangmu dengan sebentuk sapa yang semoga tak murung. Karena jelas, diantara kita siapa yang sudi berbagi airmata.?

Seringkali kau berceloteh tentang sesuatu yang sejatinya kuyakini tak kau peduli. Sementara paras, dan telingakuku padamu, tapi benak dan rasaku mengalir ke penjuru soal yang berbeda. Menyimpang dari kejujuran tanggap yang mungkin bisa melegakan tempuhanmu. Sebab sekali lagi yakinku berbicara; bukan di sana kita ingin berlabuh.

Ah.. aku ingin lepas dari musim yang janggal ini. Sebentar saja.. kedalamanmu mengalami semua tentu saja tak kubutuhkan. Karena aku tak mengerti batas arahmu itulah aku selalu mengakrabkan gurau. Bahasa yang miskin petanda. (moga kau ingat bahwa ada banyak pembicaraan yang kita lakoni dengan kau mengatup bibirmu.. cukup senyum, atau sedikit nanar yang mengisahkan segala..)

Bahwa solitude ini menguatkan, rasanya terlalu naïf. Bahwa keacuhan itu mengukuhkan, bukankah tak sesederhana itu.? Petalamu, petalaku. Tentu jauh dari keriuhan. Sebab kita tak akan menemukan seorang pun disana menyaksikan semua. Kita tak akan mungkin menyua sesosok bayang mengulurkan tulusnya, mengabarkan bahagia.

Atau bukan itu keinginan yang ada..? aku juga tak tahu. Setelah tatap, selepas pertemuan, apa yang tersisa..? jarak yang halus ataukah kekosongan yang lamat..?

Sudahlah…. malam ini aku bersimpuh pada de javu. Apa yang terjadi hingga nantinya biarlah menguraikan maknanya sendiri. Aleitheia ini telah mati.. dan teramat sunyi. Aku letih, entah dirimu..?

____________________
Rimura Kenz . . Cibiru
* Surat yang tertunda

Advertisements