Aletheia . . .
Selarik jemu, selembar kertas, bersulang merangkai makna. Meneguhkan batas rasa. Dalam barisan kata, berulangkali aku berusaha memaknai perjalanan hidup. Meleburkan jejak pada prinsip-prinsip tolol yang kadang terkikis oleh nalar acuh sewaktu. Sungguh itu merupakan pojok masa yang teramat rumit. Entahlah.. adakah ia masih berarti tatkala keangkuhan semakin menegaskan beranda kerapuhan diri. Aku hanya menyadari bahwa sesaat aku menuntaskan lirih, yang tersurat kemudian hanyalah juraian huruf-huruf lapuk. Ia begitu anggun menandaskan bahasa diri, namun terlampau letih untuk mengobati.

Aletheia . . .
Sampai tanah itu menyisakan tilas pertemuan aku dan dia. Mungkin sedikit pertemanan yang dia beri, toh’ bagiku ia cukup bersahaja. Tentang cahaya, bulan, juga malam (raphsody kesunyian yang melingkari hari-hari lainku) kami tak pernah berbicara akannya. Tentang kejujuran rasa, keteguhan sikap, kami juga tak kunjung melibatkan adanya. Namun, disanalah (entah mengapa) aku justru selalu menginginkan ‘ia’ terus kembali. Mungkin karena ia melindapkan pijar yang tak bisa aku restui. Itu terlalu menganggu kegundahan rasaku. Dan aku tak sudi menyerahkan persada jerih jua harapan yang susah-sesak kuhamparkan, pada kehancuran oleh hadirnya. Hanya, aku tak kuasa mengobarkan api di keteduhan dua tatapnya.

Hmmfh.. apa yg mesti aku tulis disini. Sebab sedari awal aku slalu meyakinkan setiap tempuhan langkahku bahwa hal-hal seperti ini adalah percuma. Seraut hidup yang kujalani hingga saat ini hanyalah senandung satu hasrat yang terus tertunda pada ‘hal’ yang mungkin takkan ia pahami. Tapi, untuk itu aku membutuhkan hadirnya. Bukan sebagai sosok yang mengujarkan setia, apalagi menyerapahi apa-apa yang telah kutulusi. Aku merindukan ia sebagai ruang agar aku tidak selalu merasa terasing. Dan adakah ia mengerti, diri ini seringkali mengulurkan kata tanpa suara? Seringkali mengingkari arti lain sebuah cita? Sebab ia pertanyaan yang tak pernah aku mampu temukan jawabnya. Maka aku juga takkan memaksa untuk mempunyai jawab. Sebab ia terlalu aneh buat sebuah hidup yang harus menunduk takluk pada kekejamannya sendiri. Maka aku juga tak ingin terus tersungkur meratapi kelam yang sia-sia.

Aletheia . . .
Hingga aku merasa bahwa prosa pahit ini butuh semacam jeda. Sebelum airmata memuing. Sebelum kemboja meminang. Aku hanya ingin terlelap dalam keheningan yang sejuk. Meski itu cuma sebentar. Meski itu juga tidaklah meredakan kemelut hari. Hingga aku mendendam rindu pada sebuah stasi. Sebuah bumi tempat aku mampu menganyam kembali semua luka. Walaupun itu berupa singgasana berantah yang mewujud hanya lewat impian. Entahlah..

Aletheia . . .
Detik ini aku bersulang. Melumpuhkan kalapnya imaji pada layar dan teks yang bertindihan. Berupaya menyebrangkan penat lewat bayang yang terukir di tiap paragraf. Aku hanya bisa menulis untuknya. Sekedar tumpahan halus puisi-puisi tua. Agar kenangan ini tak kekal. Agar kesempatan yang seringkali mengelak kan datang menyerap. Dan inilah jalanku. Yang tak perlu ada sesal disana.

Aletheia . . .
Granary esok hari. Adalah nasib yang menghunjam di tilas kealpaan aku dan dia. Nyanyian tentang sebuah cinta tanpa bahasa. Ia kepekaan yang lamat, menyentuh setiap jiwa dengan anggunnya kejujuran. Agar aku bisa membasuh masa. Mampu mensyukuri cipta.

Aletheia . . .
Aku mencintainya..!!

Advertisements