Aku ingin menyapamu dengan kata yang sedikit mengelak, mungkin. Setelah segala yang begitu rumit untuk kupahami. Bukan sekadar mengilhamkan jawaban atau melepaskan deja vu beban, aku merapatkan pikir. Tapi sebaliknya, menyelakan setitik harapan meski tidak menuntaskan persoalan. Dalam haru yang terkadang angkuh, dalam firman diri yang menjauh. Dan mesti kau tahu, aku hanya kan setia di sini, pada keabadian rindu yang hampir membisu.

Sebab rangkaian kata dan arti yang selalu bersayap itulah, aku mungkin boleh berbahagia. Bernafas sejenak dalam deru yang tak kunjung lapang. Sebelum nanti akhirnya waktu menguraikan perihal. Apa yang tak kau yakini, apa yang tak kusesali. Lalu, kalau mungkin sempat, kita kan berbagi dalam suatu cita yang kita percaya.

Aku menantimu dengan paras yang sedikit berdebu. Kerling yang senantiasa nanar. Dan ucap yang sering tak terlontar. Atau kadang terbaring lemah oleh penyakit yang tak kuasa kumenghindar. Tak perlu risau..!! begitulah cara kita melumat persoalan, melipat kendala hidup. Kemudian kita sama-sama menertawakan hal yang itu-itu juga. Tenanglah, dan jangan berkata apa-apa selain mengenang semua dengan hati-hati. Karena ternyata jejak tidak selalu membawa kita pada ruang yang “benar”. Tapi, tentu percayalah..!! mestinya kan ada jalan kita membuat simpul kasih yang tak lekang oleh apapun.

Kata-kata ini semakin melayang, sebab ia ditulis lewat hati yang gamang. Dan merah nadi yang semakin menggenang. Hanya sekali lagi, dan telah kuulang sekian kali, aku telah mengikhlaskan semua. Apa yang lalu, dan yang kan terjadi, jerat janji ini tak kan mengelupas. Kalaupun ada perilakuku yang menimpangkannya, maka itu tak lebih batas kelimbunganku mengatup jerit emosi. Karena, dan begitu juga kuyakin dalam rasamu, kita tak ingin bersekat. Saling menyua dalam bayang. Dan itulah ketakutanku; keterpisahan akhirnya membuat rautku perlahan mengerjap dari cintamu. Tapi, Toh, itu tak kan terjadi bukan?

Hmm, sebelum segala dendam masa depan itu tiba, aku hanya ingin mengolah kejelasan tentang semuanya. Bahwa apapun yang mesti kita jalani, aku kan senantiasa menanti dirimu menyapaku lagi..!! cukup yakinlah, aku selalu di sini..!! dan untuk itu, tak perlu lagi rasanya kita memperdebatkan perihal bagaimana, atau menjenguk perihal yang membuat luka. Kita punya fairy vearth yang tak seorangpun dapat meraihnya. Di sanalah cita dan cinta kita sandingkan dengan keabadian, hingga tiba kalanya kita saling menjemput secara nyata.

Kata-kata ini sedikit lagi menemu ujungnya. Semoga segala gundah sudah ditelannya. Sebab seperti kau tahu, entah kenapa aku tak lagi bisa menyusunnya dalam ladang prosa laiknya dahulu. Aku takut ia tak lagi mewakili semua yang ada padaku tentang dirimu. Dan bahkan sengaja kubawa diriku mengelak darinya, karena kuingin menjumpaimu dengan nafas yang bisa kau kenali. Tangan yang bisa kau pegang. Detak yang bisa kau dengar. Dan segala ketelanjangan diri yang hanya tertuju padamu. Sehingga bila kerinduan itu tiba, aku juga dapat menengadahkan mataku di depan parasmu yang selalu betah kudiami. Ah.. aku menyayangimu.

Griya Kiranty,
17 Agustus 2006

Advertisements