Perempuan, apa kabarmu..? pertanyaan ini seolah menyentuh batasku. Sebuah kerinduan yang mengunjungi dian. Bahwa aku ingin merapatkan kasihku di hatimu. Menjujurkan hasratku di benakmu. Meski dengan itu aku telah membelah malam, memadatkan makna rembulan. Berharap datangkan yang tertulus dalam ucap yang tepat. Dan tahukah engkau.? Yang terlontar hanya itu dalam mampuku.

Perempuan, kita sama-sama tahu, bahwa di balik selokan kerling yang kita suakan, ada luka sejarah yang menganga, membaluri perjalanan kita. Begitu serut, getir dalam bayang, dan aku tak jua kunjung bisa membalutnya. Bagiku keyakinan, dan bagimu ketabahan. Aku padamu di telas nurani yang terbening.

Tapi kita selalu mengerutkannya dalam maaf dan lupa. Aku yang kehilangan kuasa, dan engkau yang dikejar masa. Sebab, di balik itu lampiran doa kita menjernihkan segala. Lalu kita pun bahagia.. Tentu sebelum terulang pertanyaan yang sama; adakah selalu kau di sisiku?

Aahhh.. aku menyayangimu lebih dari apa yang mampu terbayang dalam imajinasi. Sejuta bait yang kutuliskan pun tetap tak bisa menampung apa yang kurasa. Dan itu membuatku hidup, lalu mencintainya. Kalaulah ada sikapku yang seolah mengingkarinya, tak lain hanyalah ketakutanku akan kehilangan anugerah ini.. Toh’ bagaimanapun elak sadarku, cinta kan selalu bermuara di antara dua hal; harapan dan kekuatiran.

(Harapan yang menjadikan aku memiliki gairah dalam menata setiap detail paraghraf hidupku, dan kekuatiran yang membuat egoku memuncak, sebab aku ingin dirimu tanpa pernah berbagi dengan yang lain. Tapi itu karena aku juga telah mengalirkan keberadaanku seperti itu. Peduliku telah kuasingkan dari yang semua, sebab ia hanya untukmu. Tak ada waktuku yang terlepas dari mengingat dirimu. Dan itu terus kuhayati dalam diam dan riuhku.)

Perempuan.. pada akhirnya, aku mengerti.. bahwa inilah jalanku untuk mencintaimu. Jika masih tersisa labil di kenangmu, benamkanlah ia. Biarkan aku yang merangkumnya. Mungkin itu akan menjadikanku hidup dalam ingatmu. Adapun segala prasangka yang kadang mendera, lepaskanlah agar menjadi bunga.. Sebab, kelak, akan kita dapati, bahwa segala telah membuat kita percaya; cinta sejati itu ada dalam kita.

Pojok Pagi
Rimura K.

Advertisements