Perempuan, apa kabarmu saat ini?

Akhirnya sebilah frasa janggal terlontar. Setelah lama aku mengendap dalam kekeluan yang asing: aku tak mampu menyapamu.!! Entahlah . . sejak kabut dingin menyelinap di waktuku, sejak engkau terlampau hening dalam harimu, aku hanya mampu melampirkan do’a-doa kecil; semoga dirimu damai adanya. Oh’ kenanglah, itu yang hanya do’a..!!

Jangan berkata apa-apa, dan peliharalah keinginanmu dalam hati..! seorang bijak, sebaris rio-poneghlyph Shandora yang hilang, berbisik padaku demikian. Dan itu selalu kubaca saat kusut parasku mengganjilkan semua. Saat lusuh tubuhku menjauhkan segala inginku. Aku yang senantiasa menjemput ketakutan akan batas. Aku yang terus mengeruh dalam ruang mimpiku yang pengap. Ah, aku hanya ingin mendendammu di harunya hidupku. Membasuh cinta dan diri pada nafas yang kau beri.

Mungkin engkau benar saat menjunjung kerinduan tanpa sendu kata, tatkala kau ucapkan bahwa tak ada yang perlu disesali. Sebab, gugurnya seribu daun tiada makna selain masa angin mendekap tiba. Luluhnya kenang tak lagi peduli dan biarlah mengartikan hadirnya sendiri. Namun, aku berontak, selalu saja menolak, meski nalarku tak lagi menatap. Aku hanya punya rasa yang itu tidak akan kuusaikan hingga tubuhku menjadi debu. Yang itu membedakan jalan tempuhan kita sekaligus membuatnya sama. Oleh banyak hal kita terlena, dan sekali lagi lalu abadi, cintalah yang mengembalikannya.

Adakah kau masih seperti yang dulu? Yang dengan sedikit ragu membelai keras hasratku.. Dan menimang kesendirianku dengan pesona diammu.. apakah kau masih sebagaimana dahulu? Yang tanpa dekap menampar keluhku.. lalu tiada sengau menjawab semua tanyaku.. masihkah hatimu ingin menjumpai adaku? Meski di sana hanya tersisa gugup sangka yang tak bisa kita artikan seluruhnya.

Taman sunyi bunga kerinduan. Detak-detak runyam selalu mengiringinya, dan itulah sketsa usang setiap kali kita berjumpa. Kau dan aku. Terkurung dalam dunia tanpa kata. Lidah yang kalah oleh meronanya wajah. Ah, aku merindukan itu..

Perempuan, bagaimana denganmu esok hari?

Timur Bandung
22 September 2006

Advertisements