Padamu aku belajar seni kehilangan.
Mencatat huruf-huruf untuk mengingat
hari-hari yang ingin tetap dipertemukan,
mengingat kata-kata untuk membaca
doa-doa yang ingin tetap diyakinkan,
membaca jejak-jejak untuk menafsir
kenangan-kenangan yang ingin tetap diperjuangkan.

Pada tangan yang gemetar ketika mengikat tali sepatu,
pada mata yang berkaca ketika menatap luas laut,
pada bibir yang menggigil ketika kehilangan setiap kenangan,
pada langkah yang menolak lelah ketika menerka arah;
aku temukan suara Ney* yang menyayat-nyayat harap,
yang mengetuk-ngetuk rindu di setiap dada
para pengikat janji sejak Hari Alastu.**

Alice,
dengan apa kaulipat jarak yang serak?
Dengan apa kausingkat gerak yang sesak?
Dengan apa kautafsir takdir yang getir?
Dengan apa kaupetakan sebuah perjalanan?
“Cinta… Cinta,” bisikmu.

Ciromed, 13 Mei 2015

 

*sajak Sabda Ali Mifka yang dikirim pada suatu malam.. Maaf kawan, aku tidak bisa menuliskan prosa lain untuk sajak yang kau kirim ini.. Aku hanya bisa tenggelam dalam bait2 di sajakmu setiap kali membacanya, dan tak sanggup menuliskan apa-apa..