Ia yang mengerti sunyi, ia yang akrab dengan rasa nyeri. Kutuliskan ini bertahun lalu, ketika kuhabiskan masa muda dengan pilihan: membaca Kierkegaard dan Derrida. Sedang cinta dan sejenisnya kusampingkan di sudut lembaran hidup agar ia tak terbaca. Hingga akhirnya datang dirinya dan segenap nuansa yang menarikku begitu saja. Aku pun jatuh. Seperti putik bunga ketika angin menyapa. Lalu kuputuskan untuk mencintainya; ringan dan sederhana.

Tapi itu membuatku lupa akan apa yang telah kubaca dari Derrida. Dirinya, seperti kehadiran lainnya, hanyalah penanda. Ia hadir dengan arti yang berubah seiring janji. Karena itu, ketika garis hidup memutuskan jalinan, aku pun kembali pada kesunyian. Dan ia begitu menyakitkan.

Hingga suatu hari kita saling mengenal dalam sapaan yang awalnya tak diniatkan. Aku menemukan nuansa itu lagi. Yang bertahun terlupakan, dan sempat tak ingin kurasakan lagi. Kita berbicara tentang masa lalu masing-masing diri. Tentang rasa sakit yang pernah dialami. Tentang hidup dan drama yang harus dibuat agar orang lain tak perlu mengenal kita yang nyeri. Lalu entah bagaimana awalnya pula, kita sama-sama terjatuh dalam keinginan untuk tidak saling melepaskan. Tapi itu sebelum aku menyadari bahwa hidupku sudah terlalu banyak beban dan ketakutan. Aku terlalu lama bercengkrama dengan sunyi, dan itu membuatku sulit menerima hadirnya orang lain di sisi. Aku takut kehilangan kesederhanaan hidup yang kujalani. Aku takut nuansa yang kita bangun ini harus menjadi rumit karena keinginan yang lebih tinggi untuk saling memiliki.

Karena itu, meski dengan tulus kukatakan aku mencintai dirimu, aku belum bisa melebihi batas itu. Dan aku sedih. Aku sedih karena keadaanku membuatku harus berpikir seribu kali bahkan untuk semata menemuimu. Aku sedih karena masa lalu tak pernah benar-benar hilang dari diriku, dan itu membuatku tak berani melangkah maju. Aku sedih karena tak bisa menjadi sosok yang mampu benar-benar mendampingimu.

Sedang aku terlanjur menyayangimu, dan aku tak ingin hilang segenap nuansamu. Tapi itu hanya akan menjadi penjara bagimu. Sementara dalam ikhlas inginku, aku tak ingin mengekangmu. Maka, jika pada akhirnya hanya lembaran ini yang menemuimu, itu adalah penanda: bahwa aku masih di sini, dengan segenap rindu yang utuh untuk dirimu. Hingga barangkali suatu hari kelak aku akan menyelesaikan ketakutan ini, dan menemuimu untuk pertama kali. Tapi itu bisa saja terlambat, dan aku hanya harus kembali pada sunyi yang itu-itu lagi.

 

R. Arken.

02/01/2018

 

Advertisements