Posts Tagged ‘timur’

Senjakala Rasionalitas

August 1, 2008

Relung . .

Carut marut perjalanan pemikiran manusia atas perihal diri dan semesta di luarnya mungkin tak akan pernah setia pada ujung. Sesaat jawaban sebelum lindah riuh kembali meredam. Gumam absurditas Camus, hentakan puitis Holderin ala Heidegger, teriakan zarathustra yang disabdakan nietzsche, hingga luapan kesenduan tatap Kao Feng di timur ujung, semakin meneguhkan atas hikayat ini. Senjakala rasionalitas manusia, begitulah penulis sering menyebutnya. Sejak mitologi dihancurkan dalam bubat berabad antara akal dan iman, kini segalanya seolah menjadi semakin tak jelas. Tapi memang, tanpa renung yang tak mengenal ujung, rasionalitas manusia hanya akan menjelma fakultas hampa.

Sunyi . .

Di tengah terik kegamangan tersebut pula seringkali wahyu dibutuhkan. Hanya saja, luhurnya firman jauh berbanding dengan kemampuan pencerapan. Jangankan untuk dimaknai, dalam mengucapkan kembali semua kesampaian tersebut pun, manusia butuh dimensi ekstra kesabaran dan pembelajaran. Ruang, waktu, kanvas hamparan eksistensi manusia terlampau menjerat kesucian dalam kubang kotor hasrat bumi. Padahal agar firman terdedahi, manusia semestinya butuh kejernihan benak dan hati. Read the rest of this entry »

Timur Nalar; Surat Yang Tertunda

July 27, 2008

Timur Nalar, Juli ‘08
Untuk: dirimu yang kukenal dahulu..

Matinya Aleitheia…

Semenanjung hidup.. seribu paraghraf telah kuselesaikan. Sejuta renung telah kurampungkan. Hanya berharap ringkih itu hilang. Segala yang memuncakkan egoku pada kelabilan kan terkikis. Lalu, keraguan pun tak lagi membayang. Namun, seakan tak ada yang beranjak. Waktuku, ruangku tak pernah setia. Aku tetap disini. Mereka sudah terlampau enggan menampik hadirku. Aku kehilangan ikrar ab aeterno yang dulu kubisikkan di telingamu. Meskipun kau tak pernah mau tahu. Entah denganmu..?

Aku menunggu ketegaran yang terjungkal oleh rautmu. Begitu sedikit yang sempat kita rapalkan pada dunia. Begitu jauh prinsip yang kita amini dengan kenyataan yang dijalani. Berulangkali demikian. Selalu ada yang terkelupas dalam kemasan kita memanipulasi bahasa peristiwa. Entah siapa yang berdusta. Toh’ kuyakinkan itu hanya karena kita tak punya lidah untuk mengejanya dengan benar. Tanpa sesal, tanpa terlupa. Read the rest of this entry »