Seseorang datang dan berkata: ada 4 syarat utama dalam belajar filsafat: 1) mengakui kebebalan, 2) mencintai kearifan, 3) penghayatan akan sunyi dan menyukai kesendirian, 4) pemahaman kata-kata.
Aku cuma menyukai syarat ke-3. Sedih..
“Ochenta Fleur; Cuantro Mano..”
Seseorang datang dan berkata: ada 4 syarat utama dalam belajar filsafat: 1) mengakui kebebalan, 2) mencintai kearifan, 3) penghayatan akan sunyi dan menyukai kesendirian, 4) pemahaman kata-kata.
Aku cuma menyukai syarat ke-3. Sedih..
Hari ini kuawali dengan perasaan yang seperti hambar. Padahal biasanya pagi selalu berhasil menyimpan semua perasaan dan pikiran yang kalut oleh masalah. Atau jangan-jangan aku tidur di bawah ketiak Jin tadi malam, huhhhh… Tapi, sudahlah bukan itu yang ingin kutuliskan di sini.
Kali ini aku ingin berbicara tentang semestinya. Tentang apa yang harus namun terbuang dan terlupakan. Tentang yang tak tertunaikan, lalu menjelma keputusasaan dalam diri. Ceieeee…, lama-lama aku jadi penyair juga neh, hehe… Atau (serius) sederhananya begini, dalam beberapa bulan terakhir ini ada beberapa rencana hidup yang kujalankan. Ga terlalu banyak see, cuma memang rencana itu sudah kuniatkan sejak lama. Aku tidak akan berbicara apa rencana dan apa yang sudah kulakukan untuk mendukung keberhasilan rencana tersebut. Itu rahasia, hehehe.. Yang jelas, itu tidak akan berpengaruh ataupun menggangu hidup kamu orang lain.. Nah, dari sini justru masalah itu bermula.
Menjalani hidup apa adanya, menerima baik dan buruknya, susah dan senangnya, memang sepertinya mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Kadang aku bertanya, kalaulah (seperti diriku kemaren2) berniat untuk melakukan A, karena aku melihat ada peluang di titik A dan memang sepertinya A ini menghampiri diri sebagai kesempatan yang tidak boleh kulepaskan, lalu seluruh pikiran, semangat, dan tindakanku kufokuskan pada A, seharusnya aku akan mendapatkan A itu. Aku yakin teman-teman dan seluruh orang pintar setuju akan hal itu, lepas dari persyaratan yang diajukan. Sebab dulu rasa-rasanya ajaran “The Secret” udah menyebutkan bahwa kalo aku sudah mentotalkan diri pada sesuatu, maka semesta juga akan membuka setiap peluang yang mendukung sesuatu tersebut. Nah, justru yang terjadi pada hari-hari ini entah kenapa adalah yang sebaliknya. Kerjaan yang menghilang, harapan yang menguap, kesempatan yang terbuang, atau bahkan usaha yang percuma. Hmm.. sepertinya lumrah bila aku berpikir bahwa ajaran-ajaran yang dulu kuyakini tentang keberhasilan diri seperti itu cuma ibarat mimpi. Hadir sesaat dan membuai diri, lalu sebelum sempat dinikmati ia sudah pergi. Bullshit pisan..!! Read the rest of this entry »
Kalau pada saat nanti aku tak lagi mampu berada di sisimu.. tak lagi sanggup menjunjung setia sumpahku.. apa yang layak kukenang di hadapmu..?
Tunggulah sebentar.. hingga sempat kuakhiri pergulatan sunyi ini. Kuusaikan segala cedera hidupku.. juga luka sejarahku.. sungguh, aku tidak akan menyerah atas semuanya.. sebab, apa yang kuikrarkan, kubisikkan, kuderaikan, kulabuhkan, adalah lanskap keberartian yang tidak boleh kuurungkan kehadirannya. Pun itu mesti mengelakkan pahammu akan diriku pada anggapan yang asing. Read the rest of this entry »