Posts Tagged ‘sinting’

Senja, Senggama, Sinting

July 29, 2008

16.45 WIB (. . . . . . . . . . ????)

Matahari menuju barat, jarum-jarum waktu masih angkuh menipiskan anganku pada lingkar absurd tarian kata dan imaji. Seribu masa menyelinap diatas meja dan girisan pena yang mengutuk tubuh dalam kelam. Huahhh …. Naha otak aing jadi beku kieu? Duh . . lagi-lagi mozaik kekalutan ini memahatkan takutku pada cerita-cerita basi dan tolol tentang lepuhan kesemestian hidup, ini harus cepat diakhiri (hei .. Asyhadie, siapa bilang aku dilahirkan lewat telinga? Insomnia, amnesia, dan narsis siah!, adalah jawaban untuk igauan beatniksmu). Hanya bagaimana manusia, konon, memeriakkan cintanya pada kebijaksanaan, ia bisa dianggap berharga. Ah, persetan dengan mistifikasi tolol yang telah ditularkan filsafat itu …

Penaku masih dirasuki sejuta entah, pijar renung meredup seiring fantasi kelamku mulai meraja. Ternyata hidup begitu rumit, sehingga manusia memerlukan oceh, olok, dan onani dalam penempuhannya. Sesaat keletihan kembali membias di desahku, namun (k)ontologisasi realitas tak sudi beranjak dari renungan. ANJIINGGGG !!! aku bosan dengan metafisika substansial hierarkis, metafisika proses, apalagi gradasi realitas, enyahlah teori-teori emanasi yang hanya bisa mereduksi kalut semesta dan melembagakan tuhan dalam teori. Satu-satunya logos bagi ontologi evolusionik semesta adalah logos senggama. Kebersatuan Yin dan Yang dalam terma liberasi desah dan spasi geliat. Taoisme binal dan I Chingisme jalang pada realitas tak berambang, yang menyuguhkan seruan libidinal setiap geliat chaotik. Inilah serpihan paradigma yang tidak membutuhkan lampiran-lampiran epistemologis, takdir, empirikalisasi pengetahuan apalagi dekonstruksi rasistial dalam mengisyaratkan jejaknya. Ialah retakan dogmatik tentang historisitas hidup yang tak memerlukan roh absolut untuk menjelmakan kesempurnaan gelisahnya. Dan sobekan vandalitas ajaran Fir’aun tentang trans-valuasi keberadaan manusia sebagai Tuhan yang menjadi penguasanya. Transendensi senggama adalah ranah yang memberi tempat bagi tetes-tetes kebusukan dan percik-percik kejahatan yang sekarang telah diusir oleh setiap terma kuasa rasionalitas dan moralitas (hukum, ideologi, etika, kitab suci, dll), meskipun tak pernah berhasil karena pelakunya tak lain adalah aktor utama keberlangsungannya. Imanensinya mendekam, menggertak, menjerit dalam super ego individual dan ketaksadaran kolektif masyarakat. Membisiki segala bentuk kesemuan pikir dan dzikir lewat proses deifikasi dan caci maki. Manifestasinya mengerjap dalam ekstase liar para sufis yang menjaring keutuhan lewat puncakan hasrat pada Tuhannya. Read the rest of this entry »