Posts Tagged ‘sekolah’

Pokokna Mah Pendidikan

July 29, 2008

Tulisan ieu lahir gara-gara pengalaman nyata: jadi harita uing ditawari untuk menuliskan sebuah buku pelajaran bagi anak-anak SD dan SMP. wallohi, baru tau ternyata buku pelajaran ditulis oleh orang sembarangan, lalu ada cukongnya, ada penerbit yang maenin harganya. Anjing..!! Pantes buku tiap tahun ganti, hargana aya nu murah aya nu mahal, kualitasna teu puguh pastina. Hampura Gusti…

{I}

Bagaimana seorang anak haram dari rahim dunia seperti aku akan menjelaskan optimismenya, ketika usaha dan pemikirannya harus dimulai dengan sebuah pemahaman bahwa sifat-sifat seperti radikal, utopis, goblok dan pianjingeun dapat meraih segala yang dicita-citakannya ?!!

Bagaimana pula jika “seorang anak haram” diganti dengan “setiap orang”?. setiap orang tanpa terkecuali yang memiliki hasrat untuk senantiasa melakukan dan menjadi apa saja yang diinginkannya. Setiap orang berhak untuk menentukan nasibnya sendiri, sekalipun jadi anjing..!!!. setiap orang mestinya, dan harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, berjuang untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penguasaan dan dominasi yang membelenggu kebebasan setiap orang untuk melakukan kreasi individualnya dalam dunia ini. Bebas dari segala bentuk hegemoni yang bersifat fisik maupun hegemoni ide-ide. Read the rest of this entry »

Guru vs Murid

July 24, 2008

Kelas yang tadinya ribut, kini menjadi sunyi-senyap setelah
guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti itu telah masuk ke
dalam ruang kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.

Murid-murid: “Selamat pagi, Bu Guru!”

Bu Guru(dengan suara melengking): “Mengapa bilang selamat pagi saja,
Kalau begitu siang, sore dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat
ya?”

Murid-murid: “Selamat pagi, siang dan sore Bu Guru…”

Bu guru: “Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat
seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, kan lebih bagus didengar dan
penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa dan keadaan.”

Murid-murid: “Selamat sejahtera Bu Guru!”

Bu Guru: “Sama-sama, duduk! Dengar baik-baik!! Hari ini saya mau menguji
kalian semua tentang lawan kata atau antonim kata. Kalau saya sebutkan
perkataannya, kamu semua harus cepat menjawabnya dengan lawan katanya,
mengerti?”

Murid-murid: “Mengerti Bu Guru…”

Guru: “Pandai!”
Murid-murid: “Bodoh!”

Guru: Tinggi!
Murid-murid: Rendah!

Guru: Jauh!
Murid-murid: Dekat!

Guru: Berjaya!
Murid-murid: Menang!

Guru: Salah itu!
Murid-murid: Betul ini!

Guru (geram): Bodoh!
Murid-murid: Pandai!

Guru: Bukan!
Murid-murid: Ya!

Guru (mulai pusing): Oh Tuhan!
Murid-murid: Oh Hamba!

Guru: Dengar ini…
Murid-murid: Dengar itu…

Guru: Diam!!!!!
Murid-murid: Ribut!!!!!

Guru: Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!
Murid-murid: Ini adalah jawaban, pandai!!!

Guru: Mati aku!
Murid-murid: Hidup kami!

Guru: Saya rotan baru tau rasa!!
Murid-murid: Kita akar lama tak tau rasa!!

Guru: Malas aku ngajar kalian!
Murid-murid: Rajin kami belajar bu guru…

Guru: Kalian gila semua!!!
Murid-murid: Kami waras sebagian!!!

Guru: Cukup! Cukup!
Murid-murid: Kurang! Kurang!

Guru: Sudah! Sudah!
Murid-murid: Belum! belum!

Guru: Mengapa kamu semua bodoh sekali?
Murid-murid: Sebab saya seorang pandai!

Guru: Oh! Melawan, ya??!!
Murid-murid: Oh! Mengalah, tidak??!!

Guru: Kurang ajar!
Murid-murid: Cukup ajar!

Guru: Habis aku!
Murid-murid: Kekal Kamu!

Guru (putus asa): O.K. Pelajaran sudah habis!
Murid-murid: K.O. Pelajaran belum mulai!

Guru: Sudah, bodoh!
Murid-murid: Belum, pandai!

Guru: Berdiri!
Murid-murid: Duduk!

Guru: Bego kalian ini!
Murid-murid: Cerdik kami itu!

Guru: Rusak!
Murid-murid: Baik!

Guru (stres): Kamu semua ditahan siang hari ini!!!
Murid-murid: Dilepaskan tengah malam itu!!!

Muka Bu Guru merah padam dan tanpa bicara lagi mengambil buku-bukunya dan
keluar ruangan. Murid-murid bangga karena mereka merasa dapat menjawab
semua pertanyaan tadi.