Posts Tagged ‘rindu’

Perempuan, Aku, dan September

September 19, 2009

Perempuan..
Aku ingin menyapa kalian dengan sedikit rasa dendam. Atas sebuah cerita purba tentang Adam dan Hawa. Bahwa kalian tercipta sebenarnya hanya dari pengapnya kesunyian dan seulas rasa iba. Adapun bila hari ini kalian lebih memiliki makna, maka anggaplah ia sekadar gerimis di waktu senja. Cukup bersahaja meski akhirnya harus redup dan berganti gulita.

Perempuan..
Aku ingin menyalami kalian dengan sedikit rasa kecewa. Bahwa dahulu sempat aku merindukan kalian bak udara dalam rongga dada. Mengalir sejuk dan mungkin memilhamkan apa yang kukira semula adalah cinta. Tapi aku kecewa, sebab kehadiran kalian ternyata terlampau fana. Pun kalian masih juga menyisakan segumpal kalut dan luka yang lupa kalian balut. Read the rest of this entry »

SOLILOQUY

June 29, 2009

Soliloquy

Judul Buku: SOLILOQUY
Penulis: Rimura Arken
Penerbit: Juxtapose
Tahun : 2009
Tebal: 216 halaman.

Prologue

semusim rintik dan dingin
rasaku tak jua berpaling ingin
meski berlembar berpaut
patah pena angan berkabut
berharap lupa tiba menjemput
tapi ia kekal menjunjung sesal
dan senantiasa diri terjerat asal..
aku mati dini,
sebelum ikrar seribu hidup terpenuhi…

Akhirnya ada yang selesai dalam tulisan. Tapi ia bukanlah ujung dari perjalanan. serupa ingatan, serupa batu nisan. Kematian dan kehidupan berkelindan menyapa senja sudut. Semula aku berpikir inilah saat menghapus ia. Dan berkata: kamu bukan lagi muasal duka. Tapi justru menjadi awal barunya lara.

Kamu seharusnya tahu, novel ini sebenarnya tak bertutur tentang dirimu. Tidak juga kisah hidupku. Ia hanya segumpal memori sempit yang entah kapan menjelma tulisan. Aku lupa… Sebab yang aku ingat semua ini diniatkan untuk menamatkan apa yang mungkin belum terucap. Apa yang belum terbaca dalam peristiwa. Apa yang belum selesai pada sapa. Setelah itu (aku berharap) kita sama-sama merdeka dari segalanya. Dan, ia berarti amorfatiku telah sempurna.

Tapi sungguh, ternyata aku tak memperhitungkan semua. Tiba-tiba yang ternyana di ingatku adalah luka yang kembali menganga. Tiba-tiba segalanya menyenandungkan lagi satu nama yang kukunci. Jalan, figura, batu, hingga mega seolah menoleh padaku dan bernyanyi, tentang gunung dan bidadari. Tentang keangkuhan yang luruh oleh anggunnya diri. (Itu kamu, tentu saja…).

Ah, apapun itu.. sepertinya memang terlambat untuk menyesal. Cerita itu telah menjelma buku, menjelma haru yang baru. Meski kini kabarmu tlah jauh dari pahamku. Apapun itu, kini ia tak bisa lagi kutunda. Buku ini tlah menghidupkan lagi pendaman prahara. Dan sosokmu kembali terkaca dalam benggala. Seperti yang sempat kita ikrarkan dulu;

Diam, jarak, dan musim yang berpadu
Tlah kutautkan padanya satu rindu
yang tak pernah ragu..
hanya menunggu..

Bandung, 29 Juni 2009

R. Kenz

Iseng..

March 29, 2009

kemana menumpulkan tajam tepian rindu
sedang hatimu masih membisu
kemana menyeka sangka tak terurai
sedang aku lelah tuk bertikai..

hanya pada malam, pada gumam,
kurapatkan lara paling kusam..

Fairyvearth

July 24, 2008

Aku ingin menyapamu dengan kata yang sedikit mengelak, mungkin. Setelah segala yang begitu complicated untuk kupahami. Bukan sekadar mengilhamkan jawaban atau melepaskan de javu beban, aku merapatkan pikir. Tapi sebaliknya, menyelakan setitik harapan meski tidak menuntaskan persoalan. Dalam haru yang terkadang angkuh, dalam firman diri yang menjauh. Dan mesti kau tahu, aku hanya kan setia di sini, pada keabadian rindu yang hampir membisu.

Sebab rangkaian kata dan arti yang selalu bersayap itulah, aku mungkin boleh berbahagia. Bernafas sejenak dalam deru yang tak kunjung lapang. Sebelum nanti akhirnya waktu menguraikan perihal. Apa yang tak kau yakini, apa yang tak kusesali. Lalu, kalau mungkin sempat, kita kan berbagi dalam suatu cita yang kita percaya. Read the rest of this entry »