14 November 2008.. Seorang kawan menulis padaku begini: “… kelak usia kan patah, dan puisi kembali mengutip darah..”. Aku tertegun, coba memperjelas ucap dalam diri. Seperti menyimak ‘rede’ atau mungkin meredakan riuh di keliling kamar dan moga terdengar bisik hati. Mengapa usia harus patah..? Apa maksudnya dengan puisi mengutip darah..?
Hari itu seharusnya aku merayakan sebuah hari kelahiran. Meski hari terlihat biasa, bagiku itu hari tetaplah sedikit istimewa. Kelahiran adalah sebuah petanda tentang perjanjian pada waktu, pada usia. Bahwa ada yang mesti ditunaikan dalam peran, dipungkas dalam nafas, atau bahkan diusung dalam renung. Dan ia memang tidak harus demikian, walaupun sekali lagi tidak ada diri yang pernah meminta untuk ada. Tapi, di hari itu, menjelang mendung di ujung ubun, ingatan kembali berusaha memungut segala ceceran kenang yang mungkin bisa membantu mengukur tindak diri. Apa yang telah kulakukan selama 25 tahun ini..?
[Rintik menyapa halaman, hawa dingin mulai merayap... seekor kecoa tampak bingung mencari kehangatan..]
Nabi Engking benar, neraka adalah usia dalam diri. 25 tahun berlalu, dan yang terasa hanyalah tubuh yang semakin layu. Belum juga tuntas menjahit luka sejarah diri yang menganga, kini semakin nyinyir dengan perjalanan diri yang tak pernah menuai cita. Dulu aku selalu berpikir bahwa pada usia begini paling tidak sudah ada perihal dalam diri yang bisa kuingat dengan rasa bangga. Bagitupun aku yakin bahwa suatu kelak, harapan dan cita-cita kan menyua tanahnya untuk tumbuh dan meraja. Tapi . . . kembali Nabi Engking benar, tidak ada yang lebih menyiksa selain berteman dengan ingatan pada hari yang dipenuhi hujan. Huffhhh…
[Hujan semakin deras, perlahan kuletakkan sebatang rokok di pojok bibir. Tingkahku sudah persis Chairil Anwar, tanpa rambut keriting tentunya..]
Namun seharusnya memang aku bersyukur. Bukankah separuh usia mesti dihabiskan untuk menjalani karma..? Apa yang kualami hari ini bisa jadi akibat perbuatan masa laluku, atau mungkin membayar lunas satu dosa yang tak pernah kuketahui wujudnya. Paling tidak aku bisa berharap pada waktu nanti, aku tidak perlu bereikarnasi menjadi Abu Rizal Bakrie, atau bahkan seekor cumi, hihi…
[tiba-tiba diri ini seperti ingin menangis. Hari belum usai. Ia dan hari telah berbagi hujan yang sama. Bukan atas beratnya derita yang ditanggungnya, tapi pada angan yang selalu koyak setiap kali ia menghimpun raut kekasihnya… cinta memang brengsek..!! ] Read the rest of this entry »
Hari-hari sekejap terasa berlalu. Kerinduan, ramah tamah, dan etika keluarga yang semula memagari diri di awal tiba pada tanah kalimantan, kini memudar menjadi “sesuatu yang biasa”. Sesuatu yang ada tapi tak disadari adanya, seperti matahari. Setiap hari ia menghidupi, memberi terang dan cahaya pada segenap diri, namun dalam kurun 24 jam waktu melingkupi hari, adakah sempat berpikir tentang hadirnya di muka bumi.? Aku kira ia terlampau sering kita lupakan, karena “sang matahari” memang terlalu biasa. Bayangkan bila ia menghilang sehari saja, pasti semua orang akan kembali mengingatnya. Nah, kembali pada cerita semula. Kerinduan yang terobati, kini berbalik menjadi kerinduan untuk segera pergi, [entah kenapa aku tidak pernah betah berada di rumah].