Posts Tagged ‘modern’

Sains dan Agama dalam Sketsa

August 1, 2008

Historiografi Sains dan Agama

Pertemuan sains dan agama pada dasarnya tidaklah selalu mengkerucut ke dalam anggapan akan pertemuan dua ranah yang berbeda, sebab keduanya seolah membaur dalam keseharian yang hampir tidak dapat dicerna secara terpilah. Bahkan untuk menentukan manakah dari keduanya yang lebih dulu merasuki kehidupan manusia, juga tidaklah pernah mendapat jawabannya yang pasti. Dalam hal ini tentu istilah sains dan agama sendiri lebih dirujukkan pada pengertian awalnya yakni; yang pertama, penyelidikan dan penafsiran atas semesta hingga bisa diketahui jawaban dari pelbagai fenomena yang terjadi, dan yang kedua sikap dan pemikiran yang menempatkan rasa ketuhanan dalam kehidupan. Namun, membahas sains dan agama dengan melibatkan seluruh historiografi pengetahuan dan religiusitas manusia, tentu di sini bukanlah tempat yang tepat mengingat banyaknya data yang dibutuhkan untuk melengkapi penelitian ini.

Henry Smith Williams dalam “A History of Science”, misalnya, telah menunjukkan pada kita bahwa sains dalam pengertian itu sebenarnya telah ada dalam masa yang hampir tidak bisa dipastikan usulnya, terkecuali dengan mengadakan pemotongan data historis tentang perkembangan mula sains. Mengingat bahwa istilah sains sendiri adalah istilah yang selalu berdengung dalam keseharian kita, meskipun belum tentu setiap orang bisa menjelaskannya dengan baik, maka uraian tentang istilah sains sendiri mutlak diperlukan. [1] Read the rest of this entry »

Dialog Sains dan Agama; Belajar dari Barbour

August 1, 2008

Mengenal Altar Manusia Modern

Paul Tillich, dalam The Shaking 0f the Foundations (1948), menyebut dosa sebagai bentuk lain persamaan akan tiga altar keterasingan manusia. Pertama, dosa merupakan keterasingan dari sesama sebab terlalu terfokus pada pemuasan ego pribadi dan ketidakhadiran cinta. Kedua, dosa adalah keberjarakan dengan diri sejati karena terlalu terpusat pada pencapaian ideal cita yang fragmentaris dan ilusif. Sedang yang ketiga, dosa ialah hilangnya spirit ‘ilahiyah’, perayaan akan rasa ketuhanan dalam diri, hingga seseorang kemudian mencukupkan segalanya pada diri, tanpa kesadaran bahwa ia amatlah rapuh dan lemah.

Tiga hal itu sebenarnya telah menjadi gejala umum dari fenomena persuaan manusia dan modernitas. Di satu sisi, alam modern dengan perangkat utamanya berupa sains dan teknologi, telah berhasil menyediakan developmentasi peradaban yang sedemikian dahsyat, namun pada sisi lain ia juga melanggengkan kegagalan manusia untuk merasakan ‘ada’ sejatinya. ‘Modernisme’ ternyata menyimpan sisi gelap yang hanya menyilangkan bentuk-bentuk nalar materialis murni dalam kehidupan manusia, dan membuang intuisi spiritualis darinya. Akibatnya tentu bisa ditebak; manusia hanya harus terjerumus pada proses reifikasi dan alienasi yang begitu akut. Tersungkur pada pembacaan akan kisi-kisi hidup dengan kriteria tunggal dan satu paradigma. Membubuhi keyakinan epistemologis lewat reduksionisme sains, dan merawat keimanan ontologis vis a vis aksiologis, via materialisme ilmiah. Orang-orang tidak lagi mampu mengurai sudut terdalam kesatuan bahasa diri, disebabkan keterpukauan atas dogma dualistik yang memecah sekaligus memberikan jarak antara satu dan lainnya. Olehnya pula, kita di ujung hikayat senantiasa lumpuh, terjerat dalam kategorisasi yang tidak lagi menyisakan ruang atas keunikan cipta dan kehadiran Tuhan. Read the rest of this entry »

Sta-hate-Ment of Modernity

July 29, 2008

Tulisan ini merupakan proyeksi yang melibatkan independensi, keringat yang mengalir dari setiap tubuh menggigil, air liur yang mengucur serta air suci yang memuncrat ke setiap penjuru kamar mandi. Dimulai dari sebuah ide sederhana, namun memuakkan untuk mendokumentasikan hasil renungan sapeupeuting di kamar tentang segala hal, termasuk bagaimana cara yang paling tepat untuk membuat muka orang lain memerah pucat, sampai pada kritik (ti mimiti kritik sampeu sampai kritik cau) terhadap segala bentuk mental dan moralitas dan berakhir menjadi rangkaian histeria sarkastik yang menggairahkan. Walaupun pemikiran dan tulisan ini hanya sebatas kentut dan tai bagi semua orang, tapi aku harap mudah-mudahan kalian pingsan dengan baunya!. Maka siapa yang akan mengira bahwa jika hal yang kamu anggap menjijikan dan memuakkan ternyata menjadi sangat asyik dan keren, serta menggairahkan di kemudian hari??.

Mungkin ini adalah salah satu cara untuk membunuh kebosanan. Manifestasi dari rasa cinta pada hidup, kemuakkan pada realitas sekitar yang seolah-olah tak ingin kita ada didalamnya. Mungkin kita sudah merasa bosan dengan kepatuhan, ketundukan. Tidakkah menjadi menggelikan ketika kita terlahir menjadi sebuah mainstream baru dan melahirkan budaya caci maki? Ketika manusia seperti seonggok sampah bagi kita yang pantas untuk dibuang jauh-jauh beserta ikon-ikon yang menempel padanya. Read the rest of this entry »