Posts Tagged ‘metafisika’

A.N. Whitehead dalam Telaah

August 1, 2008

Filsafat proses dicetuskan pertama kali oleh Alfred North Whitehead walaupun benih pemikirannya sendiri bisa dilacak pada masa Yunani kuno saat zaman keemasan mula filsafat berawal. Tulisan ini mencoba menelaah beberapa poin pemikiran Whitehead secara singkat.

Metafisika Proses Whitehead

Ada beberapa konsep dan istilah sentral yang sering mengemuka dalam pembahasan tentang filsafat proses Whitehead, yakni; proses (process), entitas aktual (actual entity), prehensi (prehention), prinsip kreativitas (creativity), objek-objek abadi (eternal objects), dan Tuhan (God). Point-point tersebut pada dasarnya saling terkait, tak terpisah dalam membentuk sistem filsafat Whitehead secara utuh.

Whitehead (1861 – 1947), pada dasarnya lebih menggunakan istilah “kosmologi” daripada “metafisika” untuk menyebut rancang pandang dunia buat sistem filsafatnya. Metafisika atau filsafat spekulatif ini dirumuskannya sebagai; “the endeavour to frame a coherent, logical, necessary system of general ideas in terms of which every element of our experience can be intrepreted.” (usaha untuk merumuskan suatu sistem gagasan-gagasan umum yang logis dan koheren, dimana setiap unsur pengalaman dengannya dapat dijelaskan (Process and Reality, Canada, 1979). Read the rest of this entry »

Ambang Sunyi Hermeneutik

July 27, 2008

Relung . . .

Perenungan atas kompleksitas para-semesta belum jua berakhir. Upaya manusia dalam memaknai dan menelikung kepelikan tersebut sampai sekarang pun urung menyua ujung. Alih-alih menguasai, memahami, untuk menemukan secercah kepastian tentang realitas, manusia hanya harus bercanda dengan temporalitas putusan. Sesaat jawaban. Namun, toh’ ia tak pernah puas. Sebagai manifestasi kosmos yang dianugerahi kemampuan untuk merelung dan menilik, manusia rupanya harus hidup, berjalan dalam aras takdir mitis kejatuhan Adam oleh buah pengetahuan. Hasrat untuk melahap nikmatnya hafalan akan ‘nama-nama’ mengusai pada kegamangan. Ia hanya mampu meleburkan “baham” telah merangkum semua dalam ungkapan: “tebas dulu lehernya, baru beri dia kesempatan untuk berbangga”.

Sejarah pengetahuan, nalar, filsafat, sains bahkan agama adalah tamsil retak atas kebuntungan tersebut. Bagaimana kedigjayaan pikir bisa merengkuh keangkuhan, yang dulu sempat terenyak dalam kebodohan. Nafas peradaban, kentut teknologi, peluh kuantum, hingga airmata kemajuan merupakan isyarat jauh akan lebatnya semangat manusia mengartikan hadirnya. Akan tetapi, lagi-lagi semua itu hanya sekejap. Sekilas pandang yang kembali mererehkan benak kita dalam kesunyian. Segalanya gagu. Apa yang dulu terpahat di atas terangnya rumusan, tiba-tiba berbalik dalam kenyataan. Pelbagai penyakit pun datang; nihilisme, sophisme, ambiguitas, yang dengan senyap melunturkan kepercayaan. Manusia: hidup memang hanya mesti percaya, hanya entah pada ayat yang mana. Read the rest of this entry »