aku hanya sempat menjemput rindu dari kutipan parasmu..
sebelum letih bertukar tunggu dengan ragu,
dan waktu menyamarkan keheningan semu..
Huaahhhhhhhhhhhhhhh… akhirnya bisa kembali mengunci diri pada blog sewaktu ini. setelah 2 bulan penuh mengunjungi masa lalu alias mudik ke rumah ortu. Perjalanan yang meletihkan memang, sesudah 3 tahun berlalu tanpa kabar pada sang ibu (maafin y ma…). Aku berangkat lewat senja yang berangin dan hati yang diliputi ingin. Tentu saja ia dikarenakan anak mana yang tidak dihinggapi kerinduan pada sang ibu? Malin Kundang aja balik lagi mesti sekadar menjadi batu. Begitulah kira-kira alasan dalam diri menutup keraguan dan membuangnya di balik hujan yang memayungi sepanjang perjalanan.
Hari-hari sekejap terasa berlalu. Kerinduan, ramah tamah, dan etika keluarga yang semula memagari diri di awal tiba pada tanah kalimantan, kini memudar menjadi “sesuatu yang biasa”. Sesuatu yang ada tapi tak disadari adanya, seperti matahari. Setiap hari ia menghidupi, memberi terang dan cahaya pada segenap diri, namun dalam kurun 24 jam waktu melingkupi hari, adakah sempat berpikir tentang hadirnya di muka bumi.? Aku kira ia terlampau sering kita lupakan, karena “sang matahari” memang terlalu biasa. Bayangkan bila ia menghilang sehari saja, pasti semua orang akan kembali mengingatnya. Nah, kembali pada cerita semula. Kerinduan yang terobati, kini berbalik menjadi kerinduan untuk segera pergi, [entah kenapa aku tidak pernah betah berada di rumah].
Tanah ini tidak lagi sama. Itulah yang menjejali pikiranku menghirup udara di kalimantan ini. Seolah kebisuan namun bercerita. Tentang musim latanahsilam yang biru tak berdebu, namun kini berbalik hitam penuh empedu. Rimbunnya hutan digantikan oleh masokisme pertambangan. Entah apa yang akan disebut oleh roh bumi jika kita bisa mendengarnya.. Aku tak bisa membayangkan tumbal yang akan diambil bunda pertiwi sebagai harga yang mesti dibayar atas tindakan pengrusakan tubuhnya. Aku ingat pada hikayat Syekh Lemah Abang yang mesti mengucurkan darah untuk mengurangi amarah bumi, apakah itu yang mesti dilakoni..? Entahlah, toh pada hening lembayung sekali lagi aku cuma bisa termangu. Read the rest of this entry »

