Posts Tagged ‘jiwa’

Enigmatic Me

September 17, 2009

Untuk Kamu: Kejoraku

Siapa yang memulai sapa kukira hanya persoalan dalam kata. Aku mengenalmu, lalu sedikit sempat merindukanmu, dan sekarang kehilanganmu. Hanya itu yang aku tahu. Tapi tetap saja ia kembali menjadi persoalan semu dalam jelajah waktu.

Tidak semua perihal tentu, adalah hal yang biasa. Hidup bertahun rasanya cukup untuk mengajarkan bahwa rasa berawal dari peristiwa, ingatan bermula dari kejadian, dan apa yang pernah terbayangkan tidak selalu jujur dalam kenyataan. Kuharap ini menjadikan kejujuranku tidak keluar dari kebiasaan. Dan jika detik ini lembaranku menjumpaimu dengan paraghraf yang haru, itu lebih dikarenakan aku takut kembali kehilangan kamu. Ah, hanya itu.. Read the rest of this entry »

Granary Esok Hari

July 24, 2008

Aletheia . . .
Selarik jemu, selembar kertas, bersulang merangkai makna. Meneguhkan batas rasa. Dalam barisan kata, berulangkali aku berusaha memaknai perjalanan hidup. Meleburkan jejak pada prinsip-prinsip tolol yang kadang terkikis oleh nalar acuh sewaktu. Sungguh itu merupakan pojok masa yang teramat rumit. Entahlah.. adakah ia masih berarti tatkala keangkuhan semakin menegaskan beranda kerapuhan diri. Aku hanya menyadari bahwa sesaat aku menuntaskan lirih, yang tersurat kemudian hanyalah juraian huruf-huruf lapuk. Ia begitu anggun menandaskan bahasa diri, namun terlampau letih untuk mengobati.

Aletheia . . .
Sampai tanah itu menyisakan tilas pertemuan aku dan dia. Mungkin sedikit pertemanan yang dia beri, toh’ bagiku ia cukup bersahaja. Tentang cahaya, bulan, juga malam (raphsody kesunyian yang melingkari hari-hari lainku) kami tak pernah berbicara akannya. Tentang kejujuran rasa, keteguhan sikap, kami juga tak kunjung melibatkan adanya. Namun, disanalah (entah mengapa) aku justru selalu menginginkan ‘ia’ terus kembali. Mungkin karena ia melindapkan pijar yang tak bisa aku restui. Itu terlalu menganggu kegundahan rasaku. Dan aku tak sudi menyerahkan persada jerih jua harapan yang susah-sesak kuhamparkan, pada kehancuran oleh hadirnya. Hanya, aku tak kuasa mengobarkan api di keteduhan dua tatapnya. Read the rest of this entry »