Posts Tagged ‘filsafat’

Filsafat . . .

March 26, 2009

Seseorang datang dan berkata: ada 4 syarat utama dalam belajar filsafat: 1) mengakui kebebalan, 2) mencintai kearifan, 3) penghayatan akan sunyi dan menyukai kesendirian, 4) pemahaman kata-kata.

Aku cuma menyukai syarat ke-3. Sedih..

Sains dan Agama dalam Sketsa

August 1, 2008

Historiografi Sains dan Agama

Pertemuan sains dan agama pada dasarnya tidaklah selalu mengkerucut ke dalam anggapan akan pertemuan dua ranah yang berbeda, sebab keduanya seolah membaur dalam keseharian yang hampir tidak dapat dicerna secara terpilah. Bahkan untuk menentukan manakah dari keduanya yang lebih dulu merasuki kehidupan manusia, juga tidaklah pernah mendapat jawabannya yang pasti. Dalam hal ini tentu istilah sains dan agama sendiri lebih dirujukkan pada pengertian awalnya yakni; yang pertama, penyelidikan dan penafsiran atas semesta hingga bisa diketahui jawaban dari pelbagai fenomena yang terjadi, dan yang kedua sikap dan pemikiran yang menempatkan rasa ketuhanan dalam kehidupan. Namun, membahas sains dan agama dengan melibatkan seluruh historiografi pengetahuan dan religiusitas manusia, tentu di sini bukanlah tempat yang tepat mengingat banyaknya data yang dibutuhkan untuk melengkapi penelitian ini.

Henry Smith Williams dalam “A History of Science”, misalnya, telah menunjukkan pada kita bahwa sains dalam pengertian itu sebenarnya telah ada dalam masa yang hampir tidak bisa dipastikan usulnya, terkecuali dengan mengadakan pemotongan data historis tentang perkembangan mula sains. Mengingat bahwa istilah sains sendiri adalah istilah yang selalu berdengung dalam keseharian kita, meskipun belum tentu setiap orang bisa menjelaskannya dengan baik, maka uraian tentang istilah sains sendiri mutlak diperlukan. [1] Read the rest of this entry »

Dialog Sains dan Agama; Belajar dari Barbour

August 1, 2008

Mengenal Altar Manusia Modern

Paul Tillich, dalam The Shaking 0f the Foundations (1948), menyebut dosa sebagai bentuk lain persamaan akan tiga altar keterasingan manusia. Pertama, dosa merupakan keterasingan dari sesama sebab terlalu terfokus pada pemuasan ego pribadi dan ketidakhadiran cinta. Kedua, dosa adalah keberjarakan dengan diri sejati karena terlalu terpusat pada pencapaian ideal cita yang fragmentaris dan ilusif. Sedang yang ketiga, dosa ialah hilangnya spirit ‘ilahiyah’, perayaan akan rasa ketuhanan dalam diri, hingga seseorang kemudian mencukupkan segalanya pada diri, tanpa kesadaran bahwa ia amatlah rapuh dan lemah.

Tiga hal itu sebenarnya telah menjadi gejala umum dari fenomena persuaan manusia dan modernitas. Di satu sisi, alam modern dengan perangkat utamanya berupa sains dan teknologi, telah berhasil menyediakan developmentasi peradaban yang sedemikian dahsyat, namun pada sisi lain ia juga melanggengkan kegagalan manusia untuk merasakan ‘ada’ sejatinya. ‘Modernisme’ ternyata menyimpan sisi gelap yang hanya menyilangkan bentuk-bentuk nalar materialis murni dalam kehidupan manusia, dan membuang intuisi spiritualis darinya. Akibatnya tentu bisa ditebak; manusia hanya harus terjerumus pada proses reifikasi dan alienasi yang begitu akut. Tersungkur pada pembacaan akan kisi-kisi hidup dengan kriteria tunggal dan satu paradigma. Membubuhi keyakinan epistemologis lewat reduksionisme sains, dan merawat keimanan ontologis vis a vis aksiologis, via materialisme ilmiah. Orang-orang tidak lagi mampu mengurai sudut terdalam kesatuan bahasa diri, disebabkan keterpukauan atas dogma dualistik yang memecah sekaligus memberikan jarak antara satu dan lainnya. Olehnya pula, kita di ujung hikayat senantiasa lumpuh, terjerat dalam kategorisasi yang tidak lagi menyisakan ruang atas keunikan cipta dan kehadiran Tuhan. Read the rest of this entry »

Tentang Nilai dan Hidup

July 29, 2008

AIR mengalir dan terus mengalir menyelinap pelan-pelan masuk dalam rongga kering pori-pori tanah, tanpa riuh piuh, tak mengingini apa-pun. Sebuah sikap dari akhir kesadaran untuk berdiri sendiri, meniduri keinginannya. Tak mudah memang sudah hukum dari sononya!. Meskupin dibalok-bilak tetep aza monopoli. Mungkin sekedar kenyataan yang terus menerus sesuai kapasitas potensial realitas, tapi sekali lagi siapa yang mengerjakannya. Ah pusing anjing!!!

Perlawanan ARUS menyusahkan tapi ada kesopanan dan kesesuaian estetis yang membuat hati merangkul, meraih alam semesta ini, rasanya LEGAH. Satu yang mungkin digarisbawahi: pengkebirian yang muncul dari lubang-lubang masa silam, membuat buta. Bukan buta yang disadaringini tetapi buta yang terus turun temurun dari mitologi Adam sampai CIMBERFIC. Sejarah memang BAU. Mendingan momok, meskipun bau tapi membuat anjing-anjing bertanya: “apakah lewat lubang itu manusia turun?”. Mereka adalah yang ingini kalian ikuti dengan dalih perjanjian primordial mitologis, politis, mitis. Satu pernyataan {dalam tulisan sebagai media pelantara eksistensi } “Najis” Aing KUDU percaya sama yang mereka yang menjunjung gunung mengawang-ngawang takpunya gawang tanggungjawab. Read the rest of this entry »