Posts Tagged ‘bahasa’

Becoming Don Juan

August 14, 2008

Tepat jam 16.45 WIBJ (Waktu Indonesia Bagian Jawa…) ceritanya membuka email yang beberapa hari ini kubiarkan saja dipenuhi SPAMM (Surat dan Pesan Aing Males Macana: undangan friendster, info terbaru One Piece, dan tentu saja ‘pesan cinta’ dari orang-orang yang sama sekali ga penting…). Nah, karena ga ada kerjaan sore itu, aku iseng membuka beberapa SPAMM, dan ciluuuukkk baaaaaa…. Aku menemukan surat yang menarik dari seseorang berinisial “L” (bisa Limusakeureut, Lieur, Leho, Lebok, Lasso Arie, Lestari Bunga Citra, Lu kira lu cakep? dll). Pesan tersebut kira-kira isinya gini: “apa kamu ga berperasaan? Apa kamu mengira kamu adalah Don Juan? Kamu tu cuma maenin aku… bla… bla… (sisanya caci maki kerinduan gitu degh.. hehe..). Aku baca pesan ini berulang-ulang, karena emang ga tau sapa yang kirimnya. Namanya terdengar ”asing sekaligus pernah kukenal”. Hmm… siapa ya..?

Nah, pendek kata pendek otak, setelah merenungi dengan banyak khidmat dan khusyu’, akhirnya inti pesan tersebut kutemukan. Oooo… orang berinisial ”L” ini sebenarnya ingin bertanya gimana caranya menjadi Don Juan (”Bilang donk ”eL”…”). Aku sendiri tentu bukan Don Juan, bukan Playboy cap kabel, cap ember, cap kaki tilu, dsb. Tapi, pada suatu waktu yang aku tak tau kapan pastinya, itu pernah kualami. Punya pacar pokok 6, dengan pacar cabang tak terhitung, hehe.. Pacar pokok ato PP sendiri bagiku kira-kira bisa diartikan sebagai ”pacar yang emang ada ikrar dan janji sebagai pacar” (tapi aku ga janji buat ga nambah pacar lagi…). Pementara pacar cabang alias PC ini bagiku adalah orang-orang (baik perempuan ataupun cewe, halik siah jalu..!!) yang kami saling berhubungan layaknya pacaran tanpa harus aku berjanji menjadi pacar, (nu kieu mah loba baheula.. ha.. ajigh hayang deui..).

Menjadi Don Juan atau apapun istilahnya bukanlah sebuah hal yang patut dibanggakan, tapi harus dilakukan dan dinikmati tentu saja. Aku menyatakan hal ini karena memang bagiku hubungan masa muda berupa pacaran, bobogohan, ini hanyalah permainan. Lagipula memang intinya hidup itu permainan. Jadi, apapun yang terjadi dan dihadapi aku cukup menikmatinya sebagai bagian dari permainan yang sedang kulakoni. Menang, kalah, tertajong, tersikut, dll. adalah hal yang biasa terjadi. Tidak perlu sakit hati, tidak perlu membenci, tinggal rayu dikit juga udah damai lagi. Tapi, karena ia permainan, kita perlu kecermatan, kecerdasan, dan sedikit keberuntungan. Pada titik di mana kita yang memegang kendali permainan yang cantik seperti itu, kamu, kamu, kamu, dan kamu akan merasakan indahnya hidup. Caranya… gampang, trik yang dikumpulkan dari pengalaman ini rasa-rasanya (terutama buat ”L”) bisa membantu. Read the rest of this entry »

Filsafat Yang Diam

July 27, 2008

“. . . Pergolakan arus dunia, pasang-surut ilmu pengetahuan, mungkin pada akhirnya hanyalah sebuah lingkaran literacy yang akan mengurung benak setiap generasi. Lingkaran itu bak gerbang panopticon yang terus menerus mengalpa-ingatkan bahwa semesta bukanlah ‘roti tawar’. Ia mungkin lezat, namun toh tetap merangsang kita untuk senantiasa mengolesnya dengan perihal yang lain.

Sementara, di samping segala stimulus itu, ribuan tahun lamanya sejarah telah menularkan apa yang mesti dikenal sebagai silabus quantum dialektika. Sesuatu yang takkan mudah untuk dipahami. Apalagi untuk diwarisi. Sejenis anak kehidupan yang begitu dekat namun belum jua tersentuh adanya. Sedangkan kita di sini, melanggengkan kesetiaan pada ‘ia’ yang sehadir-lewat, kemanakah kita akan berpaling..? begitu tolol.”

Berabad lamanya manusia menyertai evolusi semesta. Menitiskan usaha pencarian akan kepelikan yang tak kunjung terungkap. Diilhami kesadaran yang menghunjam, nalar yang menghantam, alih-alih rahasia terbungkam, manusia justru hanya bisa menjahit waham: ia telah merangkum segalanya. Ekspansi jagad rupanya ditakdirkan untuk menaungi perjalanan tiap generasi dengan rahasia yang terus berlipat. Selalu saja ada kemungkinan bagi kebaruan yang menyanggah setiap penemuan. Kebenaran tak pernah bertahan. Perenunganlah yang menyua kemapanan. Dan . . . . . . . Read the rest of this entry »

Bahasaku: Fatamorganaku

July 24, 2008

Kuteringat hati
Yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi
Cinta..

[Sebelum Cahaya: Letto]

dear my lovely fleur..

Ribuan jejak, satu langkah yang terasa.. Hari dulu, besok, atau lusa selalu kan ada cinta yang mendoakan hidupmu. Dan aku di sini, di fairy vearth yang bening, menunggu aletheia menerjemahkan setiap denyut solilokui perjalanan kita.

Tapi, hari ini rasanya ingin kumengadu. Perihal waktu yang kurasa begitu memburuku. Menjelma berat beban yang menelikung lurus pundakku. Dan tak jua bisa reda sejenak meski di mimpiku.. atau barangkali perihal kita yang tengah tertegun, menekuni kabut peristiwa, dan dihimpit gulita sebelum cahaya..

Aku hampir menyerah, terisak kalah.. nalar yang lumpuh, hati yang lusuh.. Membayangkan engkau yang kan menjauh. Mengingat keinginan yang luka sebelum sempat terbaca.. meski di sana ada hasrat yang hanya terungkap lewat kata, kau dan aku kan selalu bersama.. Read the rest of this entry »