Posts Tagged ‘agama’

Padamu Tuhanku…

August 28, 2008

Tuhan..
Kadang aku ingin bertanya: dalam dunia apakah aku hidup sekarang ini..? Jalinan kehendak-Mu yang seperti apa yang melingkarinya..? Bagaimana aku memahami semua yang terjadi? Tapi itu tak pernah berani kuajukan. Karena aku mungkin terlamapu takut itu bisa meremukkan gagasanku tentang diri-Mu.

Tuhan…
Tapi masalahnya: Aku berdiri di altar dan hari yang dipenuhi sesaknya ironi cinta dan kamarahan-Mu. Entah harus bagaimana mengimani diri-Mu dalam kondisi seperti itu. Lintang hidup sekitarku sesak oleh tragedi rumitnya menuntaskan emosi. Apa gerangan yang menyebabkan seperti ini..? Sementara oleh kesetiaan pada anggapanku tentang diri-MU, aku diam-diam telah menjadikan-Mu Tuhan yang menjaraki benak dari semua jawaban, bahkan kemungkinan.

Tuhan….
Mungkin sebagian besar peristiwa bisa teruraikan oleh sucinya ayat-ayat dan petunjuk para penafsir-Mu. Tapi itu kurasakan hanyalah menjadikan hadirmu bak singularitas tanpa cerita. Lalu tiba-tiba aku hanya harus yakin bahwa dari sana ruang, waktu, materi energi bahkan pertanyaan ini lahir. Dan percayalah..! titik. Maaf, aku tidak bisa seperti itu.

Tuhan…
Tidak ada keraguan pada diri akan keagungan-Mu. Tidak ada kebimbangan dalam hati tentang ke-Mahaan-Mu. Tapi, hidup ini terlampau singkat dan silap untuk ikut terlibat dalam renungan yang panjang akan diri-Mu. Apakah aku cukup berharga hingga Kau beri kesempatan hadir di dunia ini..? Ataukah ini sekadar pemenuhan takdir yang tak bisa kutolak bahkan jikapun itu menjadikan diriku ‘hitam’ di depan-Mu..? Read the rest of this entry »

Sains dan Agama dalam Sketsa

August 1, 2008

Historiografi Sains dan Agama

Pertemuan sains dan agama pada dasarnya tidaklah selalu mengkerucut ke dalam anggapan akan pertemuan dua ranah yang berbeda, sebab keduanya seolah membaur dalam keseharian yang hampir tidak dapat dicerna secara terpilah. Bahkan untuk menentukan manakah dari keduanya yang lebih dulu merasuki kehidupan manusia, juga tidaklah pernah mendapat jawabannya yang pasti. Dalam hal ini tentu istilah sains dan agama sendiri lebih dirujukkan pada pengertian awalnya yakni; yang pertama, penyelidikan dan penafsiran atas semesta hingga bisa diketahui jawaban dari pelbagai fenomena yang terjadi, dan yang kedua sikap dan pemikiran yang menempatkan rasa ketuhanan dalam kehidupan. Namun, membahas sains dan agama dengan melibatkan seluruh historiografi pengetahuan dan religiusitas manusia, tentu di sini bukanlah tempat yang tepat mengingat banyaknya data yang dibutuhkan untuk melengkapi penelitian ini.

Henry Smith Williams dalam “A History of Science”, misalnya, telah menunjukkan pada kita bahwa sains dalam pengertian itu sebenarnya telah ada dalam masa yang hampir tidak bisa dipastikan usulnya, terkecuali dengan mengadakan pemotongan data historis tentang perkembangan mula sains. Mengingat bahwa istilah sains sendiri adalah istilah yang selalu berdengung dalam keseharian kita, meskipun belum tentu setiap orang bisa menjelaskannya dengan baik, maka uraian tentang istilah sains sendiri mutlak diperlukan. [1] Read the rest of this entry »

Dialog Sains dan Agama; Belajar dari Barbour

August 1, 2008

Mengenal Altar Manusia Modern

Paul Tillich, dalam The Shaking 0f the Foundations (1948), menyebut dosa sebagai bentuk lain persamaan akan tiga altar keterasingan manusia. Pertama, dosa merupakan keterasingan dari sesama sebab terlalu terfokus pada pemuasan ego pribadi dan ketidakhadiran cinta. Kedua, dosa adalah keberjarakan dengan diri sejati karena terlalu terpusat pada pencapaian ideal cita yang fragmentaris dan ilusif. Sedang yang ketiga, dosa ialah hilangnya spirit ‘ilahiyah’, perayaan akan rasa ketuhanan dalam diri, hingga seseorang kemudian mencukupkan segalanya pada diri, tanpa kesadaran bahwa ia amatlah rapuh dan lemah.

Tiga hal itu sebenarnya telah menjadi gejala umum dari fenomena persuaan manusia dan modernitas. Di satu sisi, alam modern dengan perangkat utamanya berupa sains dan teknologi, telah berhasil menyediakan developmentasi peradaban yang sedemikian dahsyat, namun pada sisi lain ia juga melanggengkan kegagalan manusia untuk merasakan ‘ada’ sejatinya. ‘Modernisme’ ternyata menyimpan sisi gelap yang hanya menyilangkan bentuk-bentuk nalar materialis murni dalam kehidupan manusia, dan membuang intuisi spiritualis darinya. Akibatnya tentu bisa ditebak; manusia hanya harus terjerumus pada proses reifikasi dan alienasi yang begitu akut. Tersungkur pada pembacaan akan kisi-kisi hidup dengan kriteria tunggal dan satu paradigma. Membubuhi keyakinan epistemologis lewat reduksionisme sains, dan merawat keimanan ontologis vis a vis aksiologis, via materialisme ilmiah. Orang-orang tidak lagi mampu mengurai sudut terdalam kesatuan bahasa diri, disebabkan keterpukauan atas dogma dualistik yang memecah sekaligus memberikan jarak antara satu dan lainnya. Olehnya pula, kita di ujung hikayat senantiasa lumpuh, terjerat dalam kategorisasi yang tidak lagi menyisakan ruang atas keunikan cipta dan kehadiran Tuhan. Read the rest of this entry »

Religiusitas Edan

July 29, 2008

Manusia? itu parasit, tahu!! yang menghuni di setiap tiang kehidupan, atas pengalaman membuatnya tak ingin lepas dari rasa memiliki. merupakan sebuah konspirasi baru dari berbagai momennya. Lantas apa yang patut dihargai bagiNya ? Duka Atuh Anjing!!. Berdiri diantara batu Institusi, Sistem Nilai (etika), karakteristik Pemikiran, dan diakhiri oleh Ibadah sebagai almamater sakral yang membuat objek persembahan. Maka tersebutlah satu legalitas Religi. Kenapa gitu? Tidak!!. Tetapi Dengan legalitas Religi yang berwajah serius menuntun sebuah harapan dan keinginan serta pencerahan di alam berikutnya. Wadhuk!! Kondom sebagai penawar dari kecemasan, kesesalan yang selalu menghantuinya, terutama setelah segala konsepsi nyeleweng dari gagasan instrumental. Lebok goblok!! Aing oge nyeri hate ibarat mesat silet dari lubang anus. iihhh linu, bayangkan dulu. OK (siga nuhayang sia mah!)

Maka dari segala upaya secara tidak langsung, kausalitas dari kenyataan menjadi lebih berlangsung dan melaju kata, mensintesa bahasa, membatistuta makna. Unuk akan hal inilah suatu legitimasi dari erlementari Chaotic (kekacauan) di dunia. Hal inilah yang membentuk suatu pirmid Sakral yang megah meruah. Huah huah huah 20X (ulang) hoyah. Dengan melajunya waktu dalam ruang dan keyakinan yang mencandu, ide-ide itu diwariskan kepada anak-anaknya untuk selau mengaktualisasikan sikap (ritual) penyerahan dan ketundukan terhadap hal yang diangap transcendent. Dengan ini mereka mersa hidup damai, Benarkah itu? Aah Kataaanya, baleg beubeul !! Padahal biasa-biasa bae. Read the rest of this entry »