telah aku sampaikan:
aku datang dari yang hening, bernyanyi tentang keruh dan bening, hidupku sunyi syahdu seiring, riwayatku singkat nasib berpaling, hariku runyam berbalut uring, cintaku layu hati nan kering..
telah aku sampaikan:
aku datang dari yang lirih, bernyanyi tentang puing dan serpih, hidupku absurd tak memilih, riwayatku kabur rambut memutih, hariku lusuh berpalang risih, cintaku patah hati nan perih..
telah aku sampaikan:
aku datang dari yang luka, bernyanyi tentang sajak airmata, hidupku redup cahaya senja, riwayatku dendam di ujung renta, hariku lumpuh seribu asa, cintaku hilang janji nan fana.
Perempuan..
Pada riuh utopia dan kemewaktuan cinta, aku menyua diriku telah terbaring mengharap runtuhnya persada bising. Aku lalu membaca Sartre, tentang neraka di dirimu, tentang faktisitas yang membiru. Sebab sekali waktu ia pernah berbicara tentang sakit . . . tentang seribu terjal yang menjadi belukar ketakutan dalam diri. Bahwa itu adalah palung keterasingan yang kan menyapa setiap angan. Bahwa ia adalah muasal segala puji dan cacian. Saat suara hati didengarkan, ia pun merayapi kesadaran. Begitu pun aku . .
Ini kali aku tak lagi mampu menahan deras ungkapan dari hati. Aku ingin berbicara sekadar penanda keterjagaanku dari mimpi. Tentang ruang dan waktu, tentang pekik dan gerutu, tentang luka dan sembilu, tentang cinta nan pilu . . . Read the rest of this entry »
Wew.. rasanya begitu asing ketika mengharuskan diri untuk menulis di blog ini lagi. Tapi memang ada banyak perihal yang membuat diri kembali bergulat di sini. 3 bulan tentu waktu yang bisa saja singkat, meski dapat juga lama, dalam hitungan nol inspirasi untuk menulis. Hanya, demikianlah.. rasa-rasanya tak ada yang perlu disesali, atau dianggap begitu berarti dari sekadar meliburkan diri. Dan apa yang bisa kembali terangkai dari aksara, itupun juga tiada perlu diterangkan ihwal mulanya. Ho.. Yang jelas, aku lagi membenci seseorang..!! Aku benci karena harus terikat satu rasa yang kupikir terus ditolaknya [meski sebenarnya aku tidak pernah mengungkapkan itu.. hoho..]. Ah, apapun, hujan hari ini masih nyinyir, Bandung tetaplah kota yang dingin, dan aku masih bisa berselimut menahan gigil. Lalu, pada dia yang kubenci, bacalah..!!