Inspiration
lembaran ini sengaja disisipkan untuk menabung ingatan tentang beberapa hal yang selama ini sudah memberi warna pada hidup. Ada banyak perihal dan pengalaman tentunya yang bisa dianggap cukup berarti untuk tercakup di dalamnya. Tapi, seperti halnya dosa diri, ada yang harus “dienyahkan” dari pikiran, dan cukup menjadi sebab de javu untuk hari-hari nanti.
______________________________________
Perihal pertama yang cukup berbekas dalam memori dan memaknai sebagian perjalanan diri adalah: Buku novel karangan Eiji Yoshikawa, Mushashi. Buku ini awalnya aku dapatkan dari sebuah perpustakaan YBU Az-Zahra di Sukajadi, Bandung sekitar tahun 2001. Masih dalam format kecil dan terpisah sebanyak 7 buku (sekarang sudah disatuin dalam satu buku tebal yang lumayan berat untuk dibawa kemana-mana). ketidaksengajaan untuk membaca karena waktu itu lumayan sulit mendapatkan makanan (akhirnya dilampiaskan dengan membaca) membuat buku ini tiba-tiba menjadi begitu menarik. Bukan saja disebabkan tokoh dalam cerita Eiji Yoshikawa ini pernah ada (bukan sekadar fiksi), tapi juga karena ajaran jalan pedang dan keteguhan pada prinsip hidup yang diamini Musashi begitu mengilhami diri.
Aku tidak akan bercerita bagaimana perjalanan Musashi ini dari awal sampai akhir (kalu memang tertarik cukup beli novelnya dan baca sendiri, hehe..). Namun, kira-kira perjalanan Musashi adalah hikayat perang melawan diri meskipun divisualkan dalam banyak pertarungan dengan para samurai lain. Yang pasti buku ini bisa disebut sebagai Gone with The Wind-nya bangsa Jepang. Musashi tidak sekadar tokoh abad ke-16 (1584-1645) yang liar dan ganas serta sedikit “cool” dengan perempuan. Namun, ia dan apa yang menjadi konteks keberadaannya dalam Novel karangan Eiji Yoshikawa ini adalah hikayat bagaimana masyarakat Jepang melihat masa lalu bangsanya di ambang modernisasi. Edwin O. Reischauer, ahli Jepang dari Universitas Harvard, dalam pengantar buku ini bahkan mencatat bahwa: “Kisah ini memberikan kilasan sejarah Jepang dan pemahaman akan idealisasi citra-diri manusia Jepang masa kini”.
satu pengalamanku yang terispirasi dari novel ini adalah, aku memutuskan hubungan dengan seorang perempuan yang sebenarnya kami sedang berada pada kondisi ‘penuh cinta’. Waktu itu entah kenapa aku begitu terangsang untuk mengikuti jejak tindakan dan sikap Musashi pada Otsu (kekasihnya). Demi jalan pedang, Musashi harus meninggalkan ketundukan diri pada cinta selain “semangat pedang”. Dan aku menganggap bahwa itu begitu heroik, tragis, dan tentunya cukup patut untuk dicoba, hehe… (begitu tolol). Singkat kata, aku memutuskan hubunganku dengan perempuanku lewat alasan yang tentu saja dia tak akan pernah bisa menerima. Alasanku, bahwa sebagai mahasiswa filsafat aku harus berfokus total pada pencarian diri dan hakikat realitas. Dan inilah “jalan pedangku.!!”. Untuk itu, aku harus melepaskan semuanya, meninggalkan cintaku pada dirinya agar aku bisa menemukan sejatiku. Wow, sangat pongah, sedikit bego, dan membuat semuanya berantakan. Tapi, itulah harga yang harus kubayar, aku sakit hati dan perempuan itu lebih lagi. (Maaf ya…)
Apapun akhir cerita kami saat itu, dan terlupakan di kemudian hari, novel ini bagi diriku tentu lebih dari sekadar alasan untuk memutuskan hubungan. Musashi adalah sumber ilham tentang keteguhan, semangat, dan tentu saja seni hidup. Hidup Persib..!! (teu nyambung..)
______________________________________
Perihal kedua adalah komik One Piece masterpiece-nya Eichiro Oda. Komik ini aku kenal ketika sudah menginjak bangku kuliah (dan tentu saja dimarahin dosen..). One Piece sendiri bercerita tentang perjalanan Monkey D. Luffy menjadi “The Pirate King”. Diilhami dari pertemuan dengan kelompok Bajak laut Shanks “the red hair” ketika kecil, Luffy kemudian memulai perjalanannya sendiri setelah tak sengaja memakan buah iblis.
Singkatnya, komik ini bagiku begitu menarik, karena ia dipenuhi dengan permainan imaji, teori, filosofi, dan tentu saja sedikit mimpi. Dulu aku sempat beranggapan bahwa setelah Dragon Ball dan Samurai X, tidak ada lagi komik yang begitu inspiratif. Namun, setelah membaca dan menikmati cerita Eichiro Oda ini, aku hanya harus merelakan diriku terbuai dan sabar menunggu setiap edisi barunya.
Apa yang membuat komik ini bermakna untuk hidupku adalah, ia menjadi kawan setia dan penyegar jiwa dalam setiap kondisi keterpurukan (lagi engga punya uang, patah hati, terasing dari lingkungan, atau lagi BAB, hehe..). Sampai-sampai aku selalu membayangkan kelanjutan ceritanya ceritanya tiap kali mau tidur. Satu bait kalimat yang aku suka dalam komik ini adalah ucapan Monkey D. Luffy bahwa “The man with the most freedom in this whole oceans is the pirate king…”.
______________________________________
Perihal ketiga adalah Homicide. Grup hip-hop asal bandung, dedengkot dengung lirik filosofis sedikit vulgar. Aku mengenal musik mereka dari seorang teman yang memang menyukai jenis musik underground. Profil dari Homicide sendiri kira-kira begini:
Band Members:
- Morgue Vanguard (MC, Producer),
- Sarkasz (MC) DJ E (Turntables)
Influences:
- The Last Poets, Gil Scott Heron, Fela Kuti, Marvin Gaye, Stevie Wonder, Prince, Curtis Mayfield, James Brown, Public Enemy, Rakim, EPMD, BDP, Run DMC, Gangstarr, Ice Cube, N.W.A., Organized Konfusion, Company Flow, Cannibal Ox, Minor Threat, Black Flag, Bad Brains, Negative Approach, Inside Out, Refused, As Friends Rust, Seein Red, Amebix, His Hero Is Gone, From Ashes Rise, Catharsis, Godflesh, Neurosis, Isis, Merzbow, Boredom, Throbbing Gristle, This Heat, Einsturzende Neubauten, John Zorn, Godspeed You! Black Emperor, Fugazi, My Bloody Valentine, Mogwai, Portishead, Black Sabbath, Slayer, Carcass, Napalm Death, Brutal Truth, Terrorizer, Suffocation, Nasum.
Apa yang membuat mereka bermakna dalam hidupku adalah aku mengenal mereka di saat yang tepat. Saat tergelap dalam hitungan usiaku yang dipenuhi oleh kemuakan pada realitas, terutama politik dan hasrat kekuasaan di lingkungan sekitarku. Lebih dari itu, tentu saja dikarenakan lirik-lirik mereka yang sangat mengagumkan. Aku seolah terdampar pada madangkara puisi dan filsafat, teori dan aksi, juga hmmm… onani libido kekerasan dan imaji.
______________________________________
Perihal keempat. Ini bermula dari Marx yang mengatakan: “Para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda, padahal yang penting adalah mengubahnya”. Lewat ungkapan Marx ini aku memulai kecurigaan sekaligus ketertarikanku dengan Soren A. Kierkegaard. Seorang filsuf eksistensialis yang mengajarkan bagaimana menjadi “to be me..!!”.
Lewat filsuf ini, aku belajar bahwa hidup tanpa embel-embel, sekadar bernafas memang mudah. Namun, menjalaninya dengan kesadaran yang otentik akan eksistensi yang khas sebagai manusia itu adalah persoalan. Sebab, aku adalah pengada yang memiliki kesadaran terhadap diriku, eksistensiku, dan sekitarku. Diri sendiri menurut Kierkegaard adalah relasi antara yang mewaktu dan yang abadi di dalam diri manusia (roh). Syarat untuk menjadi diri sendiri cukup mudah, yakni merasakan keheningan. Sebab, di sana manusia dapat menggunakan kesadarannya untuk berefleksi. Hanya orang yang hening dapat berbicara secara benar dan mendalam, karena ia sepenuhnya sadar akan apa yang dibicarakannya. Dari sini pula seharusnya perubahan yang dicita-citakan oleh Karl H. Marx bisa terwujud.



August 4, 2008 at 6:53 pm
yang dibaca… selalu bertemakan “menjadi diri sendiri”, tentunya dengan ungkapan yang berbeda-beda…..
Tapi… seperti pada umumnya orang yang belajar filsafat dari teks, dan terkesiman dengan kreatifitas imajinya…. kita akhirnya “kehilangan dan lupa akan diri sendiri…..”
August 6, 2008 at 11:27 am
naha teu make al-quran jeung al-hadist ken inspirasina? ulah poho ka Gusti nu Agus… eh maksud teh Gusti nu Adigung…eh salah keneh … Gusti nu Agung…
April 10, 2009 at 4:29 am
Marx dan Homicide juga adalah influence dalam hidupku…. mekipun nama2 lainnya juga sangat berpengaruh: Soekarno, Tan Malaka, Iwan Fals, Chairil Anwar n the greet Man; Ayahku..
satu yang paling aku suka dari Homicide: Rima ini kurancang untuk menantang mitos, hegemoni rezim Dewa Logos
July 29, 2009 at 9:27 am
Tulisan2 Anda sekilas saya baca memang se-melankolis Kierkegaard. haha
Salam kenal…
http://hirekaeric.wordpress.com/