
AIR mengalir dan terus mengalir menyelinap pelan-pelan masuk dalam rongga kering pori-pori tanah, tanpa riuh piuh, tak mengingini apa-pun. Sebuah sikap dari akhir kesadaran untuk berdiri sendiri, meniduri keinginannya. Tak mudah memang sudah hukum dari sononya!. Meskupin dibalok-bilak tetep aza monopoli. Mungkin sekedar kenyataan yang terus menerus sesuai kapasitas potensial realitas, tapi sekali lagi siapa yang mengerjakannya. Ah pusing anjing!!!
Perlawanan ARUS menyusahkan tapi ada kesopanan dan kesesuaian estetis yang membuat hati merangkul, meraih alam semesta ini, rasanya LEGAH. Satu yang mungkin digarisbawahi: pengkebirian yang muncul dari lubang-lubang masa silam, membuat buta. Bukan buta yang disadaringini tetapi buta yang terus turun temurun dari mitologi Adam sampai CIMBERFIC. Sejarah memang BAU. Mendingan momok, meskipun bau tapi membuat anjing-anjing bertanya: “apakah lewat lubang itu manusia turun?”. Mereka adalah yang ingini kalian ikuti dengan dalih perjanjian primordial mitologis, politis, mitis. Satu pernyataan {dalam tulisan sebagai media pelantara eksistensi } “Najis” Aing KUDU percaya sama yang mereka yang menjunjung gunung mengawang-ngawang takpunya gawang tanggungjawab. Read the rest of this entry »


