Fairy Vearth

Jejak Luka dalam Aksara

Kota

Di manakah tersisa ruang untuk kita berbagi linang dan ilalang. Seperti gubuk yang dulu kita huni, dengan dinding dan atap yang kini tak lagi berupa jerami. Meski terkadang aku letih tengadahkan wajah, akrabkan tatap, berharap ada untaian doa untuk silap yang tak semata ucap.

Segala yang parau biarkan lelap dalam igau. Segala yang keruh biarkan lekang pada keluh. Di balik itu, aku hanya mengajakmu berdoa, agar mentari masih setia menyulam terang, merobek kelam.. mengubur malam-malam yang kita habiskan dengan bimbang. Dan bila sempat, membasuh separuh kisruh untuk zaman, jarak, dan cinta yang meranggas oleh hidup yang ganas..

Aku tidak ingin kau cuma terpaku menatapku. Aku ingin kau membungkus setiap detak jantungku. Menyimpannya, hingga datang hari di mana hidup bukan sekedar gumam, dan kita bisa kembali berbagi ruang..

Agustus, 2006*

*catatan lama yang lupa diarsipkan..*

Advertisement

Filed under: Renung, , , ,

2 Responses

  1. edan… aya we nya, diksi teh

    *spicles*

  2. kenz says:

    itu knp avatarmu? jd gmbar pikolo gt? br kmbali dr planet Namec ya..? :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Recent Comments

genduk on Jarak
Kikok on Jarak
Zukko on Jarak
dhani on November
Kikok on November
Zeph on November
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.